Kiprah Dakwah Muslimah

Bagi Muslimah, merunut sirah kehidupan para shahabiyah adalah sebuah keharusan. Dari sirah itulah seorang muslimah hendaknya becermin diri.
Menghiasi setiap prilakunya dengan jubah kemuliaan sebagaimana para shahabiyah telah mengenakannya.
Dari sirah itu pula seorang muslimah hendaknya menatap diri, melayangkan pandangan, menyusuri langkah kehidupan para shahabiyah yang sarat kesahajaan, kelembutan, ketegaran, dan berani.
Mereka adalah wanita-wanita yang telah teruji, turut berkiprah merenda sejarah Islam nan cerah. Sungguh merugi bagi yang tak meneladani mereka.

Cari Blog Ini

Senin, 01 April 2019

Manisnya Muraqabah

Manisnya Muqarabah

Oleh: Dede Siti Halimatus Sa’adah

         Tidak ada satu ketaatan pun di dalam Islam melainkan Allah pasti memberi kebaikan bagi pelakunya. Begitu pula halnya dengan muraqabah.

         Berkaitan dengan amal-amal yang hukumnya wajib atau sunnah, sifat muraqabah mendorong kita untuk bersegera mengerjakannya dengan penuh keikhlasan. Perasaan selalu berada dalam pengawasan Allah akan menjadikan kita sosok yang tegar dalam menghadapi segala rintangan pada waktu beribadah  kepada-Nya.

         Terkait hal-hal yang diharamkan ataupun dimakruhkan, apabila muraqabah senantiasa memenuhi hati kita, niscaya dengan sendirinya kita akan merasa takut kepada Allah SWT. kita akan senantiasa merasa tidak aman dari murka-Nya jika berani berbuat kemaksiatan dan kenistaan, sekalipun jauh dari penglihatan manusia. Dan apabila kita terlanjur melakukan kekeliruan, muraqabahlah yang akan mendorong kita untuk segera bertaubat, menyesal, dan tidak kembali kepada jurang kemaksiatan untuk yang kesekian kalinya.

          Adapun terkait sesuatu yang mubah, muraqabah akan mendorong kita untuk senantiasa menjaga adab-adab dalam melakukannya dan selalu mensyukurinya. Sebab, panggung kehidupan ini tidak terlepas dari nikmat yang wajib kita syukuri dan ujian yang harus kita hadapi dengan kesabaran serta sikap tawakal kepada-Nya. Dan hal yang mubah, pada hakikatnya ia merupakan nikmat Allah kepada para hamba.

         Jika hamba selalu berbuat kebaikan dalam tiap keadaan, dan hal ini lahir dari sikap muraqabah, maka niscaya Allah akan melimpahkan rahmat kepadanya.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ رَحْمَتَ اللّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ

“.....Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raf: 56)

         Ibnu Qayyim ra menerangkan, “Di dalam ayat ini, Allah menyebutkan bahwasannya rahmat-Nya sangat dekat secara khusus dengan orang-orang yang selalu melakukan kebaikan. Hal ini merupakan bentuk kebaikan Rabb Yang Maha Penyayang kepada hamba tersebut.

         Wajar saja balasan demikian hanya dikaruniakan kepada orang-orang yang senantiasa berbuat baik, karena balasan-Nya selalu sesuai dengan jenis perbuatan hamba itu sendiri. Jika perbuatan itu baik maka balasan yang tepat adalah kebaikan, sedangkan jika ia buruk maka balasan yang sesuai dengannya adalah kesengsaraan.

        Jadi, seluruhnya bergerak di atas roda keadilan. Mereka yang berbuat baik niscaya akan mendapat limpahan rahmat-Nya. Sedangkan orang yang berbuat keburukan niscaya akan dijauhkan dari rahmat-Nya.

        Allah telah menyediakan balasan yang besar bagi siapa saja yang hatinya dipenuhi sifat muraqabah, yang dengannya dia terbimbing untuk selalu berbuat ketaatan dalam setiap keadaan. Salah satunya adalah jaminan mendapatkan naungan pada hari Kiamat, yaitu hari ketika tidak ada lagi naungan bagi umat manusia selain naungan-Nya.

سبعة يظلُّهم الله في ظلّه يوم لا ظلََّ الا ظلُّهُ: أمام عادل, وشابٌّ نشا في عبادة الله عز وجل, ورجلٌ قلبه مُعَلَّقٌ بالمساجد, و رجلان تّحابا   في الله اجتمعاعليه وتفرّقا عليه, ورجل دعته امراة ذت حسن وجمال, فقال: انّي أجاف الله, ورجلٌ تصدّق بصدقة, فأجفاها حتّى لا تعلم شمله ما تنفق يمنه, ورجل ذكر الله جاليا فقاضت عيناه.

“Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari ketika tidak ada lagi naungan selain naungan-Nya. Mereka adalah imam yang adil, anak muda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, sesesorang yang hatinya selalu terpaut kepada masjid, dua orang yang saling menyayangi karena Allah, yang keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, laki-laki yang diajak untuk memenuhi keinginan perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan, tetapi dia menolak dengan berkata: ‘Sungguh, aku takut kepada Allah, orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan tangan kanannya, dan orang yang mengingat Allah di kala sendiri, lalu kedua matanya berlinang air mata.” (HR. Bukhori dan Muslim)

             Perhatikanlah amal tujuh jenis golongan Muslim diatas. Jika diamati secara saksama maka niscaya kita mendapati bahwa seluruh amal-amal tersebut dilandasi sifat muraqabah, perasaan selalu diawasi oleh Allah. Waallahu’Alam bis Shawab.

Ummu Ihsan dan Abu Ihsan Al-Atsari, Aktulisasi Akhlak Muslim

Jumat, 29 Maret 2019

MENGENAL KONDISI DAN PEMBAGIAN HATI

   
    Hati ibarat seorang raja yang mengatur bala tentara. Ia memberi perintah dan berbuat sesuka hati. Sementara mereka semua berada di bawah perbudakan dan kekuasaannya. Mereka aka lurus atau menyeleweng itu karena mengikuti keinginannya, baik yang diperintahkan maupun yang dilarang. Nabi bersabda:


أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

 "Ketahuilah, bahwa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya, dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati"


     Hati ibarat raja bagi jasad, sementara jasad ibarat tentara yang siap melaksanakan perintah dan menerima petunjuknya. Setiap amalnya yang lurus bersumber dari hati dan niat sang raja. Dan hati bertanggung jawab atas kinerja jasad. Karena, setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.

      Oleh sebab itu, memperbaiki dan meluruskan hati merupakan tugas pertama yang diemban orang-orang yang menapaki jalan kebenaran. Sementara memeriksa penyakit dan mengobatinya ialah tindakan paling urgen yang dilakukan para ahli ibadah.

      Bila seseorang tidak bisa menyelamatkan hatinya, ia tidak bisa mencegahnya dari perangkap dan tipu daya setan, kecuali dengan memohon pertolongan Allah. Ketika mengetahui sumber ketergantungan hati, iblis menyeretnya dengan perasaan was-was, menghadapkannya dengan berbagai kesenangan dan menghiasi keadaanya dengan perbuatan yang bisa menggelincirkannya dari jalan kebenaran.

     Iblis juga membentangkan perkara-perkara yang menyebabkannya melampaui batas. Sehingga, ia tidak akan memperoleh taufik (bimbingan) dari Allah. Selain itu, iblis memasang perangkap dan jerat-jerat yang akan menjerumuskannya pada suatu waktu.

     Dengan demikian, kita harus selalu memohon pertolongan Allah dan mengikuti jalan keridhan-Nya agar selamat dari perangkap dan tipu daya iblis. Pun menyandarkan hati kepada-Nya, menetapi perintah-Nya dalam gerak dan diamnnya, serta cermat dalam beribadah yang merupakan faktor utama untuk bisa masuk ke dalam jaminan Allah, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلاَّ مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ

 "Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat." (QS. Al-Hijr: 42)


 Pembagian Hati

      Berdasarkan sifatnya, hati dibagi menjadi tiga macam: hati yang sehat, hati yang mati dan hati yang sakit.

  1.   Hati yang sehat
    Orang-orang yang akan selamat pada hari kiamat ialah orang-orang yang memiliki hati yang sehat.
Allah berfirman:

((89))يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ((88)) ۙ اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ؕ

"(Yaitu) pada hari harta dan anak laki-laki tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat." (QS. Asy-Syu'ara': 88-89)

       Kata as-salim sama dengan as-salim yang menjadikan as-salamah (keselamatan) sebagai sifat yang permanen baginya. Misalnya, al-'alim (yang mengetahui) dan al-qadir (yang berkuasa). Ia merupakan lawan kata al-maridh (yang sakit), as-saqim (yang terjangkit penyakit), dan al-'alil (yang terkena penyakit).

      Hati yang sehat ialah hatu yang selamat dari setiap syahwat yang kontradiktif dengan perintah dan larangan Allah, serta dari setiap syubhat (kesamaran) yang bertentangan dengan firman-Nya.

       Karena itu, ia selamat dari penghambaan kepda selain-Nya dan dari ketetapan selain Rasul-Nya. Penghambaan murni hanya untuk Allah azza wa jalla atas dasar keinginan, cinta, pasrah, penyerahan diri, perendahan diri, takut, raja' (mengharap rahmat Allah), dan Khasyyah (takut pada siksa-Nya).

     Selain itu, amal perbuatannya ikhlas karena Allah. Jika ia mencintai, cintanya hanya karena Allah. Bila ia membenci, bencinya karena Allah, sedangkan bila ia tidak memberi, hal itu juga karena Allah.

      Tak cukup sampai disini, ia juga tidak pernah tunduk dan berhukum kepada setiap orang yang memusuhi Rasul-Nya. Hatinya terikat kuat untuk mengikuti Allah semata, dan tidak mengikuti seorang pun baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Adikku, Jadikanlah Hidupmu Bermanfaat Untuk Ummat



4/18/2019

Sinta Nur Khotimatul Maulida
Pondok Pesantren Nurul Hidayah,
Cijeruk, Bantarkalong, Tasikmalaya Jawa Barat

يايّها الّذين امنوا اتّقوا االله  وقولوا قولا سديدا (الاحزاب 70)

ومن يّتّق الله يجعل له مخرجا (الطّلاق 2)

ومن يّتّق الله يجعل له من امره يسرا (الطّلاق 4)

 إتّقوا الله حقّ تقاته ولاتمتنّ والاّ وانتم مسلمون
Shalihahku........

Semoga dalam lembaran pertama tadi bisa memotivasimu untuk terus semangat dalam menuntut ilmu, ikhlaskan niat menuntut ilmu karena Allah SWT, “Biarlah lelah asalkan lillah”

Jangan takut untuk bermimpi, dalam belajar itu harus ada rasa yang sungguh-sungguh dan cita-cita yang tinggi جدّ و همّة عالية.

Bertemanlah dengan orang-orang yang shalihah, karena mereka insyaAllah akan membawamu menuju kebaikan yang hakiki. Ataupun lebih baik kamu yang menuntut mereka, karena mereka juga kau akan dikenal baik oleh orang-orang, sebab jika kita ingin melihat karakter orang lain maka lihatlah dengan siapa ia berteman. Teman itu sangat berpengaruh untuk membentuk karakter atau tabi’at kita.

Seperti kata pepatah, “Jika kau berteman dengan pedagang minyak wangi maka kau akan terkena wanginya, tapi jika kau berteman dengan pemandai besi maka kau akan terkena baunya”....  Maka dari itu harus pintar memilah dan memilih teman ya.. semangat  

Dan, belajarlah tentang adab-adab dalam menuntut ilmu,, bagaimana seorang salaf ketika mereka menuntut ilmu yang bermanfaat untuk diri dan orang lain.

كن سلفيا على الجادّة

Harus mempunyai rasa hormat dan tawadhu terhadap guru, baik guru pondok ataupun sekolah. Bagaimana pun karena mereka kita bisa mendapat wawasan ilmu yang baru.

Tentunya istiqomahlah dalam hal bertaqarub kepada Allah SWT, jangan lupa untuk Shalat Tahajjud, berjama’ah, dhuha, baca Al-Qur’an. Dan terus mengulang-ngulang hafalan.

اللهمّ اجعلنا ممّن يقيموا الصلاة

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang tepat dalam mendirikan shalat”

Jika kau mempunyai nikmat yang lebih berbagilah kepada sesama, bersadaqahlah.

Karena jika kau ingin mendapatkan kesuksesan yang hakiki:
1) Taat beragama
2) Berbakti kepada Orangtua
3) Berbagi kepada sesama (sadaqah)

Sudah hafidz berapa juz kah? Sudah berapa hadist kah?,, terus semangat dalam menghapalnya 

Jangan banyak mengeluh, serahkan semuanya kepada Allah SWT,

ومن يتوكل على الله فهو حسبه    

“Dan barangsiapa yang bertawakal (menyerahkan semuanya kepada Allah) maka Allah akan mencukupkan keperluannya.”

Selalu do’akan kedua Orang tua kita, keluarga, guru-guru, teman-teman dan orang-orang yang mengenal kita!

Perbaiki Niat, Niatkan belajar dan beramal karena Allah, mengamalkan ilmu walaupun sedikit, beradab kepada guru, harus memilah dan memilih teman yang baik, Istiqomah dalam beribadah kepada Allah SWT, tetap semangat dalam menghapal ilmu Allah. Selalu bertwakal dan bertaqwa kepada Allah. Teruslah menggapai cita-citamu, jadilah seorang ulama yang mumpuni banyak ilmu, banggakan semua orang yang mendukungmu terutama kedua orang tua kita. Aku berharap kita yang akan menjadikan keluarga kita bersama kembali di Surga Firdaus-Nya Ammmiiinn,,

من يريد الله به خيرا يفقه في الدّين

Jadikan Islam sebagai Ideologi, prilaku kita yang islami

Jaga diri,
Jaga Agama,
jaga kesehatan

بارك الله في عمرك, عس ان تكون إمرأة صالحة وخالصة ونافعة للأمّة............

الّلّهمّ اجعلنا من علماء المسلمين والمخلصين والنافعين والمتّقين.... أمّين ياربّ العالمين

Salam untuk Keluarga di Rumah, اللهمّ اغفر لنا ولوالدين وارحمها كما ربّنا صغار 

Sa’adah Alkayyis
Dede Siti Halimatus Sa’adah, 29 Maret 2019 17:21 Jum’at Mubarakah

Ma’had ‘Aly Hidayaturrahman, Pilang, Masaran, Sragen Jawa Tengah






Perhatian Dalam Mengamalkan Ilmu



                                                                     

                                                                       السّلام عليكم ورحمة الله وباركاته     Dede Siti Halimatus Sa'adah

                                                     18 April 2019, Ma’had ‘Aly Hidayaturrahman, Sragen  Jawa Tengah

Apa kabarmu hari ini?, semoga kau selalu berada dalam lindungan Allah Swt, ya tak lebih aku hanya ingin melontarkan beberapa nasihat untukmu bahkan untukku juga, semoga kamu senang dan bisa menerimanya dengan hati yang baik, Amiin

Perhatian dalam mengamalkan ilmu agama merupakan  sebab terbesar semakin kokoh dan mantapnya ilmu agama (ilmu syar’i) yang telah kita dapatkan. Jika amal tidak diperhatikan alias ditinggalkan, maka hilang lah ilmu.

Dari Ali bin Abi Thalib ra beliau berkata,

هتق بالعلم العمل؟ فإن أجابه وإلا ارتحل

“Amal itu memanggil dengan sebab ilmu. Jika panggilan itu direspon, (maka itulah yang diharapkan). Jika tidak, maka dia akan pergi”

Oleh karena itu, amal adalah sebab kokohnya ilmu. Asy-Sya’bi rahimahumullah Ta’ala berkata,

كنًّا نستعين على حفظ الحديث بالعمل به

"Dulu kami berusaha untuk menghapal hadist dengan mengamalkannya”

Saking kita harus mengamalkan ilmu yang telah dipelajari, percuma mempunyai ilmu jika tidak dibarengi dengan pengamalan. Maka dari itu sedikit ilmu tapi mengamalkan lebih utama dari pada banyak ilmu tapi tidak mengamalkan.

Ingat antum harus bisa melebihi orang-orang yang antum paling bisa. Loncati mereka dengan pengamalan ilmu antum yang antum dapat meskipun sedikit!

Terus-teruslah berdoa, karena Allah mempunyai banyak hikmah dan pahala jika kita mengamalkan ilmu-Nya. Aku doakan semoga kau mampu dalam menuntut ilmu disana, mimpilah dengan cita-cita dan semangat yang tinggi. Harus menjadi pribadi yang dapat membawa diri dan orang lain menuju kebaikan, kesabaran dan keistiqomahan yang hakiki.

Karena dunia ini hanyalah tempat untuk menanam benih amal untuk akhirat. Ingat perkataan Ali bin Abi Thalib, “Jadilah kalian sebagai anak-anak akhirat jangan menjadi anak-anak dunia, karena akhirat adalah tempat penghisaban amal sedangkan dunia adalah tempat beramalnya”. Jadi, semangat dalam belajar, terus kejar mimpimu

Lantunkan selalu doa Nabi SAW,

الّلهمّ إنّي أسألك علما نافعا, وزقا طيّبا, وعملا متقبّلا

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima

SINTA NUR KHOTIMATUL MAULIDA, Pondok Pesantren Nurul Hidayah, Tasikmalaya



                                                                                   والسّلام عليكم ورحمة الله وباركاته      Sa’adah Alkayyis







Tafsir Surat An-Nisa, ayat 32

Surat An-Nisa Ayat 32

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagianmu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi seorang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. 4/32)

    Imam Ahmad meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata: "Ummu Salamah berkata: 'Wahai Rasulullah! kaum laki-laki dapat ikut serta berperang, sedangkan kami tidak diikutsertakan berperang dan hanya mendapat setengah bagian warisan. Maka Allah SWT menurunkan firman-Nya: 'Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagianmu lebih banyak dari sebagian yang lain." (HR. At-Tirmidzi)

    Ali bin Abi Thalib menceritakan dari Ibnu Abbas tentang ayat ini, ia berkata: "Hendaklah laki-laki tidak berkhayal, dan ia berkata: 'Seandainya aku memiliki harta si Fulan dan keluarganya.' (Maka Allah melarang hal itu), akan tetapi (hendaklah) ia memohon kepada Allah SWT dari karunia-Nya. Al-Hasan, Muhammad bin Sirrin, 'Atha dan Adh-Dhahhak juga berkata demikian. Itulah makna yang tampak dari ayat ini. Hal ini tidak menolak hadist yang terdapat dalam hadist shahih:

لا حسد إلاّ في اثنتين, رجل اتاه الله مالا فسلّطه على هلكته في الحقّ, فيقول رجل: لو أنّ لي مثل ما لفلان, لعملت مثله فهما في الأجر سواء

Tidak boleh iri hati, kecuali dalam dua hal: diantaranya terhadap seseorang yang diberikan harta oleh Allah, lalu dihabiskan penggunaannnya dalam kebenaran, lalu seseorang berkata: 'Seandainya aku memiliki harta seperti si Fulan, niscaya aku akan beramal sepertinya. 'Maka pahala keduanya adalah sama."

     Sesungguhnya hal tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh ayat. Dimana hadist itu menganjurkan untuk berharap mendapatkan nikmat seperti yang dimiliki oleh orang itu, sedangkan ayat tersebut melarang berharap mendapatkan pengkhususan nikmay tersebut.

    Allah berfirman: "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagianmu lebih banyak dari sebagian yang lain." Yaitu dalam perkara dunia dan agama, berdasarkan hadist Ummu Salamah dan Ibnu Abbas. Demikian pula, Ibnu Abi Rabbah berkata: "Yata ini turun berkenaan dengan larangan iri hati terhadap apa yang dimiliki seseorang dan juga iri hati wanita untuk menjadi laki-laki sehingga mereka dapat berperang." (HR. Ibnu Jarir)

    Lalu firman-Nya: "(Karena) bagi seorang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan dan bagi para wanita pula ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan," Yaitu, masing-masing mendapatkan pahala sesuai dengan amal yang dilakukannya. Jika amalannya baik, maka pahalanya adalah kebaikan dan jika amalannya jelek, maka balasannya adalah kejelekan pula. Inilah pendapat Ibnu Jarir.

   Kemudian Allah mengarahkan mereka pada sesuatu yang memberikan maslahat (kebaikan) bagi mereka dengan firman-Nya: "Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunianya." Janganlah kalian iri hati terhadap apa yang telah Kami karuniakan kepada sebagian kalian, karena hal ini merupakan suatu keputusan. Dalam arti bahwa iri hati tidak merubah sesuatu apapun. Akan tetapi mohonlah kalian kepada-Ku sebagian dari karunia-Ku, niscaya Aku akan berikan pada kalian. Sesungguhnya Aku Maha pemurahh lagi Maha pemberi.

    Kemudian Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu" Yaitu, Allah Maha mengetahui siapa yang berhak memperoleh dunia, maka Dia akan memberikan kepadanya, siapa yang berhak fakir, maka Dia akan memfakirkannya. Dan Allah pun Maha mengetahui siapa yang berhak memperoleh akhirat, maka Dia akan memantapkannya terhadap amalnya. Dan terhadap orang yang berhak mendapat kehinaan, maka Dia pun akan menghinakannya sehingga ia tidak dapat menjalankan kebaikan dan sarana-sarananya. 
Untuk itu Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala sesuatu."

Waallahu'Alam bis Shawab.

Tafsir Ibnu Katsir, Dr. Abdullah bin Muhammad Alu Syaikh, jilid 2, hlm. 371

Kamis, 28 Maret 2019

Ikhlas Dalam Menuntut Ilmu


Ikhlas Dalam Menuntut ilmu

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rohimahulloh pernah ditanya: “Bagaimanakah cara agar bisa ikhlas dalam menuntut ilmu?”

Beliau menjawab:

Ikhlas dalam menuntut ilmu itu bisa dicapai dengan beberapa hal:

Pertama,  belajar dengan niat melaksanakan perintah Allah. Karena Allah telah memerintahkannya, Allah berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“Maka ketahuilah bahwasanya tiada sesembahan yang hak selain Allah dan mintalah ampun atas dosa-dosamu.” (QS. Muhammad: 19)

Dan Allah subhanahu wa ta’ala juga mendorong orang supaya menuntut ilmu. Sedangkan dorongan Allah atas sesuatu memberikan konsekuensi kecintaan dan keridhoan Allah terhadap hal itu.

Kedua,  belajar dengan niat menjaga syariat Allah. Karena menjaga syariat Allah hanya bisa dilakukan dengan mempelajari dan menghafalkannya, dan bisa juga dengan mencatat.

Ketiga,  belajar dengan niat untuk melindungi syariat dan membelanya. Karena seandainya tidak ada ulama niscaya syariat tidak akan terlindungi. Dan tidak ada seorang pun yang menjadi 
pembelanya. Oleh sebab itu, misalnya, kita dapati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan ulama yang lainnya bersikap lantang memusuhi ahli bid’ah dan membeberkan kebatilan bid’ah-bid’ah mereka, maka kami berkeyakinan bahwa mereka itu memperoleh kebaikan (pahala) banyak sekali.

Keempat,  belajar dengan niat mengikuti syariat Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam. Karena tidak mungkin bisa mengikuti syariat beliau kecuali bila sudah mengetahui isi syariat ini.
Kelima,  belajar dengan niat menghilangkan kebodohan dari dirimu sendiri dan orang lain (Diambil dari Kitabul ‘Ilmi, hal. 199, cetakan Daar Ats Tsuraya).




Pandai Memanfaatkan Waktu



Pandai Memanfaatkan Waktu

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rohimahulloh juga pernah ditanya: Apakah saran anda tentang pemanfaatan waktu dan bagaimana cara menjaganya agar tidak terbuang sia-sia?
Beliau menjawab:
Para penuntut ilmu sudah semestinya menjaga waktunya agar tidak terbuang sia-sia. Sedangkan penyia-nyiaan waktu itu memiliki beberapa bentuk:

  • Pertama, tidak mau mengingat-ingat pelajaran dan tidak membaca lagi apa yang sudah pernah dipelajari
  • Kedua, duduk-duduk bersama dengan teman-temannya dan membicarakan permasalahan yang sia-sia dan tidak berfaedah.
  • Ketiga, ini merupakan yang paling berbahaya bagi penuntut ilmu. Yaitu dia tidak punya keinginan selain membuntuti ucapan orang, si anu bilang demikian, si itu bilang begini. Apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, padahal perkara itu tidak penting bagi dirinya. Tak diragukan lagi bahwa perbuatan ini jelas termasuk tanda kelemahan Islam di dalam dirinya. Karena Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مِن حُسْنِ إسلام المرء تركه ما لا يَعنيه

“Salah satu tanda kebaikan Islam seseorang adalah mau meninggalkan perkara yang tidak penting baginya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir)

       Menyibukkan diri dengan kabar yang tersebar dari mulut ke mulut serta terlalu banyak bertanya adalah perbuatan menyia-nyiakan waktu. Pada hakikatnya ini adalah penyakit. Apabila penyakit itu sudah menjangkiti seseorang dan menjadi tekadnya yang terbesar -kita mohon keselamatan darinya kepada Alloh- maka terkadang hal itu menimbulkan permusuhan dengan orang yang sebenarnya tidak layak untuk dimusuhi, atau membela orang yang sebenarnya tidak layak untuk dibela, hanya gara-gara terlalu memperhatikan urusan tersebut, sampai-sampai membuatnya lalai untuk menimba ilmu. Dia berdalih bahwa hal itu dilakukannya demi memperjuangkan kebenaran. Padahal sebenarnya tidaklah demikian. Akan tetapi perbuatan ini justru membuat diri seseorang disibukkan dengan urusan yang tidak penting baginya.

      Adapun apabila tiba-tiba datang berita tanpa kau cari-cari dan tanpa kau minta maka setiap orang juga menerima berita, namun tidaklah hal itu membuat mereka sibuk dengannya, dan itu juga tidak menjadi keinginannya yang terbesar. Sebab hal ini tentu saja akan menyibukkan penuntut ilmu dan menjadikan urusannya berantakan, bahkan bisa menyebabkan terbukanya pintu hizbiyah (fanatisme kelompok) sehingga menimbulkan perpecahan.” (Diterjemahkan dari Kitabul ‘Ilmi, hal. 205 Daar Ats Tsuraya).

Manisnya Muraqabah