Kiprah Dakwah Muslimah

Bagi Muslimah, merunut sirah kehidupan para shahabiyah adalah sebuah keharusan. Dari sirah itulah seorang muslimah hendaknya becermin diri.
Menghiasi setiap prilakunya dengan jubah kemuliaan sebagaimana para shahabiyah telah mengenakannya.
Dari sirah itu pula seorang muslimah hendaknya menatap diri, melayangkan pandangan, menyusuri langkah kehidupan para shahabiyah yang sarat kesahajaan, kelembutan, ketegaran, dan berani.
Mereka adalah wanita-wanita yang telah teruji, turut berkiprah merenda sejarah Islam nan cerah. Sungguh merugi bagi yang tak meneladani mereka.

Cari Blog Ini

Senin, 18 Februari 2019

Kitab Al-Iqna’

Kitab Al-Iqna’ (al-Iqna’ fi hali al-fadzi abi syuja’)

A.    Identitas buku :
Nama  kitab : Al-Iqna’  fii hali alfadz Abu Syuja

Penulis : Syamsuddin bin Muhammad bin Muhammad al-Khotib asy-Syarbani al-Qoiri asy-Syafi’i
Madzhab : Syafi’i                                              
Penerbit : Darul fikr-Beirut
Halaman : 542 halaman
Jilid : 2 jilid
B.   Biografi penulis     
Nama lengkap penulis adalah Muhammad bin Muhammad al-Khatib asy-Syarbani al-Qohari asy-Syafi’i, sedangkan julukan beliau adalah Syamsuddin. Beliau dilahirkan di Syarbin, daerah yang termasuk dalam provinsi Daqliyah, Mesir karena itulah beliau lebih dikenal dengan nama Imam Syarbani. Sayangnya tidak diketahui tanggal, bulan, dan tahun kelahirannya.
Beliau bermadzhab Syafi’i, diantara guru-guru beliau adalah Syekh al-Balisi (yang dikenal dengan Syekh Imairoh), Imam al-Mahali, Syekh at-Thohwani, Syekh Muhammad bin Abdurrahman bin Kholil an-Nasyki al-Kurdi, Syekh al-Masyhadi, Imam Syihabuddin ar-Romli dan Syekh ath-Thobalawi. Setelah belajar pada guru-guru tersebut, mereka memberi  izin pada beliau untuk memberi fatwa dan mengajar.
Beliau adalah seorang mufasir dari kalangan ahli qohirah dan beliau juga dikenal sebagai ulama yang diakui kealimannya, mengamalkan ilmunya, zuhud, wira’i dan banyak beribadah. Diriwayatkan bahwa salah satu kebiasan beliau adalah i’tikaf mulai hari pertama bulan Ramadhan, dan baru keluar dari masjid jami’ sesudah dilakukannya shalat idul fitri.
Salah satu wujud kepedulian beliau pada hukum-hukum agama adalah ketika beliau datang diundang ke rumah orang-orang yang hendak menunaikan ibadah haji. Kebiasaan beliau adalah melakukan ziaroh dan istikhoroh ditempat yang diziarahi, sebagaimana yang beliau ceritakan dimqadddimah al-Iqna’, yang mensyarahi matan al-Ghoyah wat-Taqrib, beliau menulis tersebut setelah ziarah ke makan Imam Syafi’i dan istikharah dimakam Imam Syafi’i. Juga dalam muqaddimah kitab Mughni al-Muhtaj ila, kitab syarah Minhaj ath-Thalibin beliau juga mengisahkan bahwa beliau menulis kitab tersebut setelah ziarah ke makam Rasulullah dan beristikharah di Raudhah.
Semasa hidupnya beliau banyak menulis kitab dalam berbagai macam cabang ilmu, namun beberapa diantaranya sudah tidak ditemukan saat ini. Kitab-kitab beliau yang masih ada diantaranya:
1.      As-Sirojul Munir fii la’nah ‘ala Badhi Ma’ani kalami Robbina al-Hakimul khobir
2.      Al-Iqna’ fi halil alfadz Abi Syuja’
3.      Syarah at-Tanbih
4.      Syarah al-Bahjah
5.      Taqrirot ‘ala al-Muthowwal fi balaghah
6.      Manasikul haji ‘alal madzhab asy-Syafi’i
Imam Syarbani wafat setelah ashar setelah pada hari kamis tanggal 2 Sya’ban pada tahun 977 H dan dimakamkan di Kairo.
C.     Ringkasan kitab
Nama lengkap kitab al-Iqna’ adalah “al-Iqna’ fi halil alfadz Abi Syuja’”. Lafadz iqna’ adalah masdar dari kata “aqna’a” yang bermakna memuaskan. Dengan judul tersebut pengarang memaksudkna agar orng yang membaca merasa cukup dan puas dengan penjelasan yang ada didalamnya sehingga tidak perlu bertanya-tanya lagi terkait memahami kalimat-kalimat yang terdapat pada “Matan Abu Syuja”.
Al-Iqna’ adalah kitab fiqh yang  bermadzhab Syafi’i yang merupakan syarah untuk kitab “Matan Abu Syuja”.  Hanya saja, kitab al-Iqna’ bisa digolongkan syarah panjang (Muthawwal) meskipun juga tidak terlalu panjang dan lebar, al-Iqna’ juga tidak seringkas “Fathul Qorib” atau pertengahan “Kifayatul  Akhyar”. Al-Ghazzi menyebutkannya sebagai “Syarah muthawwal hafil” (syarah panjang dan padat).
Motivasi penulisan al-iqna’ adalah atas permintaan kawan-kawan dan murid-murid asy-Syarbani yang sering mengkaji ilmu bersama beliau. Asy-Syarbani diminta agar berkenan membuat syarah untuk “Matan Abu Syuja” yang bisa mengurai ungkapan-ungkapan yang sulit dan samar, disertai penjelasan “fawaid fiqhiyah”, penjelasan ushul fiqh dan pembahasan soal-soal fiqh aktual sebagaimana yang ditulis oleh asy-Syarbani dalam syarah “at-Tanbih”, syarah “Minhaj ath-Thalibin” dan syarah “al-Bahjah”. Setelah asy-Syarbani beritikharah beberapa waktu dan shalat  dekat makam Imam asy-Syafi’i lalu merasakan dada telah menjadi lapang, barulah beliau memulai menulis al-Iqna’ ini.
Sasaran kitab ini sebagaimana ditulis oleh asy-Syarbani adalah muqddimahnya adalah untuk para pelajar pemula dan pertengahan. Untuk pelajar pemula diharapkan sudah cukup berpegang kitab ini jika ingin menguasai fiqh madzhab asy-Syafi’i , sementara untuk pelajar pertengahn diharapkan sudah cukup merujuk padanya jika ingin mengajarkan pada orang lain.
Kitab ini, sebagaimana karya-karya asy-Syarbani yang lain memiliki keistimewaan bahasa yang manis dan jelas. Al-Umani al-Bashri sangat mengagumi al-Iqna’ karya asy-Syarbani ini sampai membuat syair khusus untuk memuji kitab ini. Barangkali karena kemudahan bahasa yang digabung dengan mutu kitab yang tinggi lah yang menyebabkan kitab ini dijadikan sebagai kitab yang wajib di pelajari di al-Azhar. Al-Iqna’ selesai ditulis pada tahun 972 H.
Dalam mensyarah, asy-Syarbani menjelaskan “dhobith” lafadz Matan Abu Syuja’”, menjelaskan arah merujuknya dhomir, mengurai lafadz-lafadz samar, dan menjelaskan dalil dari setiap permasalahan fiqh baik dalil al-Qur’an maupun as-Sunnah. Saat menjelaskan as-Sunnah kadang-kadang asy-Syarbani juga mentakhrijnya.
Tidak semua ungkapan yang ditulis asy-Syarbani mudah dicerna. Kadang-kadang ada ungkapan yang perlu direnungi lebih dalam untuk memahaminya. Untuk memahami dengan cepat dan memastikan maknanya, disarankan untuk memanfaatkan hasyiyah-hasyiyah yang ditulis untuk kitab ini, terutama karya al-Bujairimi yang lebih terkenal dalam versi cetakan dengan nama “al-Bujairimi ‘ala al-Khatib”.
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, institusi al-Azhar asy-Syarif telah memandang kitab al-Iqna’ ini layak dijadikan kitab resmi yang dipelajari untuk para pelajar yang menuntut ilmu di al-Azhar. Hanya saja, mengingat tidak semua yang ditulis si al-Iqna’ dianggap perlu dipelajari dan mempermudah untuk dipahami maka sejumlah ulama yang tergabung dalam tim khusus telah bangkit untuk meringkas dan mentahdzib al-Iqna’ ini. Hasil dari ringkasan mereka diberi nama “Taisir al-Iqna’”. Dalam ringkasan ini pembahasan-pembahasan yang tidak ad realitanya dibuang. Termasuk pembahasan-pembahasan yang janggal dan bertentangan dengan realita dan penemuan baru masa kini.
Kitab al-Iqna’ sendiri ada 2 jilid diantaranya:
·         Jilid 1 menjelaskan tentang bab thaharah, shalat, zakat, shaum, dan haji
·         Jilid 2 menjelaskan tentang bab jual-beli, jinayat dan atiq.
Wallahu’alam bis Shawab.

Tidak ada komentar:

Manisnya Muraqabah