Kiprah Dakwah Muslimah

Bagi Muslimah, merunut sirah kehidupan para shahabiyah adalah sebuah keharusan. Dari sirah itulah seorang muslimah hendaknya becermin diri.
Menghiasi setiap prilakunya dengan jubah kemuliaan sebagaimana para shahabiyah telah mengenakannya.
Dari sirah itu pula seorang muslimah hendaknya menatap diri, melayangkan pandangan, menyusuri langkah kehidupan para shahabiyah yang sarat kesahajaan, kelembutan, ketegaran, dan berani.
Mereka adalah wanita-wanita yang telah teruji, turut berkiprah merenda sejarah Islam nan cerah. Sungguh merugi bagi yang tak meneladani mereka.

Cari Blog Ini

Selasa, 19 Februari 2019

Kriteria Wanita yang di Dambakan




            Yang lelaki tampan, punya pekerjaan mapan dengan gaji tiap bulan lebih dari cukup, bahkan berlimpah untuk ukuran materi, berpendidikan tinggi, berasal dari keluarga baik-baik. Pun demikian, yang perempuan cantik, cerdas, berpendidikan tinggi. Menikah dan mempunyai putra-putri yang cerdas-cerdas pula.
            Sudah sunnatullah begitu, cikal bakal dari kedua orang tuanya yang tak punya cacat sosial mendidiknya, maka tak hanya cerdas dan tampan-cantik, tapi juga humanis. Sempurna, demikian orang menyebut keluarga itu.
            Sudah baik rupa, baik budi dan kaya pula. Keluarga harmonis, demikian para pakar parenting menganalisanya, karena azas saling mendengar dan saling memahami menjadi landasan utama, yang kuncinya adalah komunikasi. Namun, tahukah? Ternyata keluarga yang begitu indah dipandang mata itu adalah ahli neraka. Kenapa? Padahal mereka tak pernah merugikan orang lain, tak pernah melanggar norma-norma kesusilaan masyarakat.
            Sebabnya adalah, karena mereka tak punya orientasi yang jelas setelahnya. Karena mereka tak pernah berpikir ada apa nantinya dibalik sekat pembatas kehidupan bernama kematian. Tujuan hidup cukup hanya sampai dunia yang nyata-nyata akan ada masa akhirnya. Bahagia di dunia, memang. Tapi balasan derita di akhirat sudah pasti. Semuanya bermula dari keimanan yang terabaikan. Keimanan tentang adanya Allah SWT, Rabb semesta alam yang wajib di ibadahi, berlanjut pada  keimanan kepada para malaikat, kitab-kitab-Nya, para rosul, hari kiamat, qadha dan qadar.
            Sungguh, hari ini kita dapati, begitu banyak keluarga yang kelihatannya baik-baik saja, harmonis dan bahagia, namun dibalik itu, siksa neraka menanti. Oleh dasar itulah, menjadi ingatan yang tak bisa di nafikan, tentang peringatan Allah SWT.
"Hai orang-orang yang beriman, periharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (at-Tahrim: 6)
kalau sudah begini, masihkah kita memandang mereka menjalani hidup dengan baik-baik saja? asal semua kebutuhan hidup tercukupi, anak-anak tak bermasalah, malah berprestasi. Maka semuanya menjadi indah. Ya, memang indah, namun keindahan yang semu dan itu artinya kita tertipu!
kembali ke aturan islam, itulah jalan yang selamat,
Jika kita coba melirik lebih dalam tentang peringatan Allah SWT dalam kitab-Nya tersebut, maka akan kita dapati kolerasi yang kuat bahwa aspek, efek, sikap, cara pandang, kepribadian dan apapun nantinya pada seseorang terlihat, dengan detail telah tercatat di lembaran kitab para malaikat, yang kemudian Allah SWT mengabarkan akan kita terima tanpa kurang satu huruf pun kelak di hari pembalasan.
Slide pun dibuka tentang kehidupan kita, dievaluasi, mana yang sia-sia, maksiat dan jatuhnya ke neraka, mana yang baik, bermanfaat, namun tunggu, belum tentu jatuhnya ke surga. Karena disini berlaku aturan yang jelas tentang pemaknaan kebaikan, yang menjadi nilai berarti atau hanya berhenti sampai dunia dan sia-sia belaka di akhirat. Aturan itu, Allah menyebutnya bernama niat, bahwa semua amal itu akan tergantung dengan apa yang diniatkannya (hadist arbai'n no 1).
Maka jelaslah, kenapa keimanan itu menjadi pintu pembuka kemana kita nantinya setelah berakhirnya kehidupan ini, dengan kunci satu-satunya adalah Syahadatain. Yang kemudian semuanya harus direalisasikan dalam syariat-Nya.
Ini, sedang tidak mendongeng ria kawan, tapi mengajak siapa pun memunguti kembali kepingan-kepingan orientasi hidup yang sesungguhnya.
Jika demikian adanya, mari kita kembali pada apa yang telah dinarasikan, dideskripsikan bahkan dicontohkan dalam islam. Tentang bagaimana seharusnya sebuah keluarga menjalani kehidupannya dalam berkeluarga. Yang dalam islam kemudian kita kenal dengan serangkain kata sakinah, mawadah wa rahmah.

Muslimah, inilah peranmu!

Ketika kita berbicara tentang keluarga, maka komponen utama yang akan kita dapati adalah ayah, ibu dan anak. Semuanya telah begitu apik ditata dalam islam tentang hal dan kewajiban, tugas dan tanggung jawab masing-masing
Meski bukan hadist Nabi SAW, dan hanya perkataan baik ulama, namun "wanita adalah tiang negara" sepertinya masih menjadi rujukan valid melihat realitas yang ada di kehidupan rumah tangga.
Hal ini bisa dibuktikan, bahwa wanita yang memainkan dua peranan dalam waktu yang bersamaan sebagai istri dan ibu, turut menjadi komponen utama membentuk karakter keluarga. Bahkan disebut-sebut, ibu adalah madrasah aula (sekolah pertama) bagi putra-putrinya dalam kontek tarbiyatul aulad (pendidikan anak dalam islam). Disisi yang lain, sering kita mendengar, keluarga adalah peletak batu pertama peradaban. Dan wanita, engkau didalamnya.
Bukan berarti mengenyampingkan peranan laki-laki, karena pada kenyataan sang nahkoda juga tak kalah penting, terlebih disaat genting. Karena ia pememgang final segala keputusan yang harus ditaati oleh semua awak kapal. Hendakk bagaimana dan kemana kapalnya melaju.
Hanya saja, keyika kita kembali melihat tugas wanita yang harus mengandung, melahirkan dan akhirnya merawat dan menumbuh-kembangkan, maka disini terlihat jelas, bahwa harus ada bekal khusus bagi seorang wanita dalam menjalankann peranannya. Bukan kemudian para bapak lepas tangan, tapi ada poin-poin yang hanya bisa dilakukan oleh wanita secara naluriah. Itulah sebabnya kenapa ada kodrat masing-masing yang tak perlu kita tuntut untuk disamakan, namun biarlah pada fitrahnya masing-masing untuk kita sinergikan begitu mitsaqan ghalidza menyatukan.

Ini baru peran Ibu, lalu bagaimana menjadi Istri?

"Perhiasan terindah dunia adalah wanita shalihah" demikian sabda Nabi SAW, yang mashur menghargai wanita di kehidupan dunia, kenapa harus diidentikan dengan perhiasan dunia? Karena ketetapan Nabi, beliau membidik ketertarikan pada Adam. Bahwa sudah menjadi fitrah dasar manusia, cenderung menyukai kepada hal yang indah-indah. Maka, suguhan lelaki yang beriman yang tahu hakikat keindahan, tanpa mudah tergoda kemudian berhasil ditipu oleh kehidupan palsu, semu dan sementara.

Pertanyaan sesederhana dari para wanita kemudian, bagaimana wanita shalihah itu?, Sebuah lirik nasyid dari the fikr cukup lengkap mendeskripsikannya.
Wanita shalihah adalah sebaik-baik keindahan
Menatapnya menyejukan kalbu
Mendengarkan suaranya menghanyutkan batin
Ditinggalkan menambahkan keyakinan
Wanita shalihah adalah bidadari surga yang hadir di dunia
Wanita shalihah adalah ibu dari anak-anak yang mulia
Wanita shalihah adalah istri yang meneguhkan jihad suaminya
Wanita shalihah penebar rahmat bagi rumah tangga, cahaya dunia dan akhirat

(prolog)
Perhiasan yang paling indah bagi seorang abdi Allah, itulah ia wanita shalihah, ia menghiasi dunia
Aurat ditutup demi kehormatan, kitab al-Qur'an di daulahkan, suami mereka ditaatina walau perjuangan dirumah saja akhlak mulia yang ia hadirkan
Karena iman dan juga islam telah menjadi keyakinan. Jiwa raga mampu dikobarkan, harta kemewahan dilabuhkan. 
Didalam kehidupan ini, ia menampakan kemulian. bagai sekuntum mawar yang segar di tengah gelombang kehidupan
(wanita shalihah, the fikr)

Inilah muslimah yang sesungguhnya, yang mengerti seharusnya menjalankan amanah kemuslimahannya, didambakan tak hanya para rijal penegak panji-panji islam, namun juga peradaban dan kehidupan semesta. Waallahu'Alam bis Shawab

Tidak ada komentar:

Manisnya Muraqabah