Kiprah Dakwah Muslimah

Bagi Muslimah, merunut sirah kehidupan para shahabiyah adalah sebuah keharusan. Dari sirah itulah seorang muslimah hendaknya becermin diri.
Menghiasi setiap prilakunya dengan jubah kemuliaan sebagaimana para shahabiyah telah mengenakannya.
Dari sirah itu pula seorang muslimah hendaknya menatap diri, melayangkan pandangan, menyusuri langkah kehidupan para shahabiyah yang sarat kesahajaan, kelembutan, ketegaran, dan berani.
Mereka adalah wanita-wanita yang telah teruji, turut berkiprah merenda sejarah Islam nan cerah. Sungguh merugi bagi yang tak meneladani mereka.

Cari Blog Ini

Senin, 01 April 2019

Manisnya Muraqabah

Manisnya Muqarabah

Oleh: Dede Siti Halimatus Sa’adah

         Tidak ada satu ketaatan pun di dalam Islam melainkan Allah pasti memberi kebaikan bagi pelakunya. Begitu pula halnya dengan muraqabah.

         Berkaitan dengan amal-amal yang hukumnya wajib atau sunnah, sifat muraqabah mendorong kita untuk bersegera mengerjakannya dengan penuh keikhlasan. Perasaan selalu berada dalam pengawasan Allah akan menjadikan kita sosok yang tegar dalam menghadapi segala rintangan pada waktu beribadah  kepada-Nya.

         Terkait hal-hal yang diharamkan ataupun dimakruhkan, apabila muraqabah senantiasa memenuhi hati kita, niscaya dengan sendirinya kita akan merasa takut kepada Allah SWT. kita akan senantiasa merasa tidak aman dari murka-Nya jika berani berbuat kemaksiatan dan kenistaan, sekalipun jauh dari penglihatan manusia. Dan apabila kita terlanjur melakukan kekeliruan, muraqabahlah yang akan mendorong kita untuk segera bertaubat, menyesal, dan tidak kembali kepada jurang kemaksiatan untuk yang kesekian kalinya.

          Adapun terkait sesuatu yang mubah, muraqabah akan mendorong kita untuk senantiasa menjaga adab-adab dalam melakukannya dan selalu mensyukurinya. Sebab, panggung kehidupan ini tidak terlepas dari nikmat yang wajib kita syukuri dan ujian yang harus kita hadapi dengan kesabaran serta sikap tawakal kepada-Nya. Dan hal yang mubah, pada hakikatnya ia merupakan nikmat Allah kepada para hamba.

         Jika hamba selalu berbuat kebaikan dalam tiap keadaan, dan hal ini lahir dari sikap muraqabah, maka niscaya Allah akan melimpahkan rahmat kepadanya.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ رَحْمَتَ اللّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ

“.....Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raf: 56)

         Ibnu Qayyim ra menerangkan, “Di dalam ayat ini, Allah menyebutkan bahwasannya rahmat-Nya sangat dekat secara khusus dengan orang-orang yang selalu melakukan kebaikan. Hal ini merupakan bentuk kebaikan Rabb Yang Maha Penyayang kepada hamba tersebut.

         Wajar saja balasan demikian hanya dikaruniakan kepada orang-orang yang senantiasa berbuat baik, karena balasan-Nya selalu sesuai dengan jenis perbuatan hamba itu sendiri. Jika perbuatan itu baik maka balasan yang tepat adalah kebaikan, sedangkan jika ia buruk maka balasan yang sesuai dengannya adalah kesengsaraan.

        Jadi, seluruhnya bergerak di atas roda keadilan. Mereka yang berbuat baik niscaya akan mendapat limpahan rahmat-Nya. Sedangkan orang yang berbuat keburukan niscaya akan dijauhkan dari rahmat-Nya.

        Allah telah menyediakan balasan yang besar bagi siapa saja yang hatinya dipenuhi sifat muraqabah, yang dengannya dia terbimbing untuk selalu berbuat ketaatan dalam setiap keadaan. Salah satunya adalah jaminan mendapatkan naungan pada hari Kiamat, yaitu hari ketika tidak ada lagi naungan bagi umat manusia selain naungan-Nya.

سبعة يظلُّهم الله في ظلّه يوم لا ظلََّ الا ظلُّهُ: أمام عادل, وشابٌّ نشا في عبادة الله عز وجل, ورجلٌ قلبه مُعَلَّقٌ بالمساجد, و رجلان تّحابا   في الله اجتمعاعليه وتفرّقا عليه, ورجل دعته امراة ذت حسن وجمال, فقال: انّي أجاف الله, ورجلٌ تصدّق بصدقة, فأجفاها حتّى لا تعلم شمله ما تنفق يمنه, ورجل ذكر الله جاليا فقاضت عيناه.

“Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari ketika tidak ada lagi naungan selain naungan-Nya. Mereka adalah imam yang adil, anak muda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, sesesorang yang hatinya selalu terpaut kepada masjid, dua orang yang saling menyayangi karena Allah, yang keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, laki-laki yang diajak untuk memenuhi keinginan perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan, tetapi dia menolak dengan berkata: ‘Sungguh, aku takut kepada Allah, orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan tangan kanannya, dan orang yang mengingat Allah di kala sendiri, lalu kedua matanya berlinang air mata.” (HR. Bukhori dan Muslim)

             Perhatikanlah amal tujuh jenis golongan Muslim diatas. Jika diamati secara saksama maka niscaya kita mendapati bahwa seluruh amal-amal tersebut dilandasi sifat muraqabah, perasaan selalu diawasi oleh Allah. Waallahu’Alam bis Shawab.

Ummu Ihsan dan Abu Ihsan Al-Atsari, Aktulisasi Akhlak Muslim

Manisnya Muraqabah