Kiprah Dakwah Muslimah

Bagi Muslimah, merunut sirah kehidupan para shahabiyah adalah sebuah keharusan. Dari sirah itulah seorang muslimah hendaknya becermin diri.
Menghiasi setiap prilakunya dengan jubah kemuliaan sebagaimana para shahabiyah telah mengenakannya.
Dari sirah itu pula seorang muslimah hendaknya menatap diri, melayangkan pandangan, menyusuri langkah kehidupan para shahabiyah yang sarat kesahajaan, kelembutan, ketegaran, dan berani.
Mereka adalah wanita-wanita yang telah teruji, turut berkiprah merenda sejarah Islam nan cerah. Sungguh merugi bagi yang tak meneladani mereka.

Cari Blog Ini

Senin, 01 April 2019

Manisnya Muraqabah

Manisnya Muqarabah

Oleh: Dede Siti Halimatus Sa’adah

         Tidak ada satu ketaatan pun di dalam Islam melainkan Allah pasti memberi kebaikan bagi pelakunya. Begitu pula halnya dengan muraqabah.

         Berkaitan dengan amal-amal yang hukumnya wajib atau sunnah, sifat muraqabah mendorong kita untuk bersegera mengerjakannya dengan penuh keikhlasan. Perasaan selalu berada dalam pengawasan Allah akan menjadikan kita sosok yang tegar dalam menghadapi segala rintangan pada waktu beribadah  kepada-Nya.

         Terkait hal-hal yang diharamkan ataupun dimakruhkan, apabila muraqabah senantiasa memenuhi hati kita, niscaya dengan sendirinya kita akan merasa takut kepada Allah SWT. kita akan senantiasa merasa tidak aman dari murka-Nya jika berani berbuat kemaksiatan dan kenistaan, sekalipun jauh dari penglihatan manusia. Dan apabila kita terlanjur melakukan kekeliruan, muraqabahlah yang akan mendorong kita untuk segera bertaubat, menyesal, dan tidak kembali kepada jurang kemaksiatan untuk yang kesekian kalinya.

          Adapun terkait sesuatu yang mubah, muraqabah akan mendorong kita untuk senantiasa menjaga adab-adab dalam melakukannya dan selalu mensyukurinya. Sebab, panggung kehidupan ini tidak terlepas dari nikmat yang wajib kita syukuri dan ujian yang harus kita hadapi dengan kesabaran serta sikap tawakal kepada-Nya. Dan hal yang mubah, pada hakikatnya ia merupakan nikmat Allah kepada para hamba.

         Jika hamba selalu berbuat kebaikan dalam tiap keadaan, dan hal ini lahir dari sikap muraqabah, maka niscaya Allah akan melimpahkan rahmat kepadanya.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ رَحْمَتَ اللّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ

“.....Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raf: 56)

         Ibnu Qayyim ra menerangkan, “Di dalam ayat ini, Allah menyebutkan bahwasannya rahmat-Nya sangat dekat secara khusus dengan orang-orang yang selalu melakukan kebaikan. Hal ini merupakan bentuk kebaikan Rabb Yang Maha Penyayang kepada hamba tersebut.

         Wajar saja balasan demikian hanya dikaruniakan kepada orang-orang yang senantiasa berbuat baik, karena balasan-Nya selalu sesuai dengan jenis perbuatan hamba itu sendiri. Jika perbuatan itu baik maka balasan yang tepat adalah kebaikan, sedangkan jika ia buruk maka balasan yang sesuai dengannya adalah kesengsaraan.

        Jadi, seluruhnya bergerak di atas roda keadilan. Mereka yang berbuat baik niscaya akan mendapat limpahan rahmat-Nya. Sedangkan orang yang berbuat keburukan niscaya akan dijauhkan dari rahmat-Nya.

        Allah telah menyediakan balasan yang besar bagi siapa saja yang hatinya dipenuhi sifat muraqabah, yang dengannya dia terbimbing untuk selalu berbuat ketaatan dalam setiap keadaan. Salah satunya adalah jaminan mendapatkan naungan pada hari Kiamat, yaitu hari ketika tidak ada lagi naungan bagi umat manusia selain naungan-Nya.

سبعة يظلُّهم الله في ظلّه يوم لا ظلََّ الا ظلُّهُ: أمام عادل, وشابٌّ نشا في عبادة الله عز وجل, ورجلٌ قلبه مُعَلَّقٌ بالمساجد, و رجلان تّحابا   في الله اجتمعاعليه وتفرّقا عليه, ورجل دعته امراة ذت حسن وجمال, فقال: انّي أجاف الله, ورجلٌ تصدّق بصدقة, فأجفاها حتّى لا تعلم شمله ما تنفق يمنه, ورجل ذكر الله جاليا فقاضت عيناه.

“Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari ketika tidak ada lagi naungan selain naungan-Nya. Mereka adalah imam yang adil, anak muda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, sesesorang yang hatinya selalu terpaut kepada masjid, dua orang yang saling menyayangi karena Allah, yang keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, laki-laki yang diajak untuk memenuhi keinginan perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan, tetapi dia menolak dengan berkata: ‘Sungguh, aku takut kepada Allah, orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan tangan kanannya, dan orang yang mengingat Allah di kala sendiri, lalu kedua matanya berlinang air mata.” (HR. Bukhori dan Muslim)

             Perhatikanlah amal tujuh jenis golongan Muslim diatas. Jika diamati secara saksama maka niscaya kita mendapati bahwa seluruh amal-amal tersebut dilandasi sifat muraqabah, perasaan selalu diawasi oleh Allah. Waallahu’Alam bis Shawab.

Ummu Ihsan dan Abu Ihsan Al-Atsari, Aktulisasi Akhlak Muslim

Jumat, 29 Maret 2019

MENGENAL KONDISI DAN PEMBAGIAN HATI

   
    Hati ibarat seorang raja yang mengatur bala tentara. Ia memberi perintah dan berbuat sesuka hati. Sementara mereka semua berada di bawah perbudakan dan kekuasaannya. Mereka aka lurus atau menyeleweng itu karena mengikuti keinginannya, baik yang diperintahkan maupun yang dilarang. Nabi bersabda:


أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

 "Ketahuilah, bahwa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya, dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati"


     Hati ibarat raja bagi jasad, sementara jasad ibarat tentara yang siap melaksanakan perintah dan menerima petunjuknya. Setiap amalnya yang lurus bersumber dari hati dan niat sang raja. Dan hati bertanggung jawab atas kinerja jasad. Karena, setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.

      Oleh sebab itu, memperbaiki dan meluruskan hati merupakan tugas pertama yang diemban orang-orang yang menapaki jalan kebenaran. Sementara memeriksa penyakit dan mengobatinya ialah tindakan paling urgen yang dilakukan para ahli ibadah.

      Bila seseorang tidak bisa menyelamatkan hatinya, ia tidak bisa mencegahnya dari perangkap dan tipu daya setan, kecuali dengan memohon pertolongan Allah. Ketika mengetahui sumber ketergantungan hati, iblis menyeretnya dengan perasaan was-was, menghadapkannya dengan berbagai kesenangan dan menghiasi keadaanya dengan perbuatan yang bisa menggelincirkannya dari jalan kebenaran.

     Iblis juga membentangkan perkara-perkara yang menyebabkannya melampaui batas. Sehingga, ia tidak akan memperoleh taufik (bimbingan) dari Allah. Selain itu, iblis memasang perangkap dan jerat-jerat yang akan menjerumuskannya pada suatu waktu.

     Dengan demikian, kita harus selalu memohon pertolongan Allah dan mengikuti jalan keridhan-Nya agar selamat dari perangkap dan tipu daya iblis. Pun menyandarkan hati kepada-Nya, menetapi perintah-Nya dalam gerak dan diamnnya, serta cermat dalam beribadah yang merupakan faktor utama untuk bisa masuk ke dalam jaminan Allah, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلاَّ مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ

 "Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat." (QS. Al-Hijr: 42)


 Pembagian Hati

      Berdasarkan sifatnya, hati dibagi menjadi tiga macam: hati yang sehat, hati yang mati dan hati yang sakit.

  1.   Hati yang sehat
    Orang-orang yang akan selamat pada hari kiamat ialah orang-orang yang memiliki hati yang sehat.
Allah berfirman:

((89))يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ((88)) ۙ اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ؕ

"(Yaitu) pada hari harta dan anak laki-laki tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat." (QS. Asy-Syu'ara': 88-89)

       Kata as-salim sama dengan as-salim yang menjadikan as-salamah (keselamatan) sebagai sifat yang permanen baginya. Misalnya, al-'alim (yang mengetahui) dan al-qadir (yang berkuasa). Ia merupakan lawan kata al-maridh (yang sakit), as-saqim (yang terjangkit penyakit), dan al-'alil (yang terkena penyakit).

      Hati yang sehat ialah hatu yang selamat dari setiap syahwat yang kontradiktif dengan perintah dan larangan Allah, serta dari setiap syubhat (kesamaran) yang bertentangan dengan firman-Nya.

       Karena itu, ia selamat dari penghambaan kepda selain-Nya dan dari ketetapan selain Rasul-Nya. Penghambaan murni hanya untuk Allah azza wa jalla atas dasar keinginan, cinta, pasrah, penyerahan diri, perendahan diri, takut, raja' (mengharap rahmat Allah), dan Khasyyah (takut pada siksa-Nya).

     Selain itu, amal perbuatannya ikhlas karena Allah. Jika ia mencintai, cintanya hanya karena Allah. Bila ia membenci, bencinya karena Allah, sedangkan bila ia tidak memberi, hal itu juga karena Allah.

      Tak cukup sampai disini, ia juga tidak pernah tunduk dan berhukum kepada setiap orang yang memusuhi Rasul-Nya. Hatinya terikat kuat untuk mengikuti Allah semata, dan tidak mengikuti seorang pun baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Adikku, Jadikanlah Hidupmu Bermanfaat Untuk Ummat



4/18/2019

Sinta Nur Khotimatul Maulida
Pondok Pesantren Nurul Hidayah,
Cijeruk, Bantarkalong, Tasikmalaya Jawa Barat

يايّها الّذين امنوا اتّقوا االله  وقولوا قولا سديدا (الاحزاب 70)

ومن يّتّق الله يجعل له مخرجا (الطّلاق 2)

ومن يّتّق الله يجعل له من امره يسرا (الطّلاق 4)

 إتّقوا الله حقّ تقاته ولاتمتنّ والاّ وانتم مسلمون
Shalihahku........

Semoga dalam lembaran pertama tadi bisa memotivasimu untuk terus semangat dalam menuntut ilmu, ikhlaskan niat menuntut ilmu karena Allah SWT, “Biarlah lelah asalkan lillah”

Jangan takut untuk bermimpi, dalam belajar itu harus ada rasa yang sungguh-sungguh dan cita-cita yang tinggi جدّ و همّة عالية.

Bertemanlah dengan orang-orang yang shalihah, karena mereka insyaAllah akan membawamu menuju kebaikan yang hakiki. Ataupun lebih baik kamu yang menuntut mereka, karena mereka juga kau akan dikenal baik oleh orang-orang, sebab jika kita ingin melihat karakter orang lain maka lihatlah dengan siapa ia berteman. Teman itu sangat berpengaruh untuk membentuk karakter atau tabi’at kita.

Seperti kata pepatah, “Jika kau berteman dengan pedagang minyak wangi maka kau akan terkena wanginya, tapi jika kau berteman dengan pemandai besi maka kau akan terkena baunya”....  Maka dari itu harus pintar memilah dan memilih teman ya.. semangat  

Dan, belajarlah tentang adab-adab dalam menuntut ilmu,, bagaimana seorang salaf ketika mereka menuntut ilmu yang bermanfaat untuk diri dan orang lain.

كن سلفيا على الجادّة

Harus mempunyai rasa hormat dan tawadhu terhadap guru, baik guru pondok ataupun sekolah. Bagaimana pun karena mereka kita bisa mendapat wawasan ilmu yang baru.

Tentunya istiqomahlah dalam hal bertaqarub kepada Allah SWT, jangan lupa untuk Shalat Tahajjud, berjama’ah, dhuha, baca Al-Qur’an. Dan terus mengulang-ngulang hafalan.

اللهمّ اجعلنا ممّن يقيموا الصلاة

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang tepat dalam mendirikan shalat”

Jika kau mempunyai nikmat yang lebih berbagilah kepada sesama, bersadaqahlah.

Karena jika kau ingin mendapatkan kesuksesan yang hakiki:
1) Taat beragama
2) Berbakti kepada Orangtua
3) Berbagi kepada sesama (sadaqah)

Sudah hafidz berapa juz kah? Sudah berapa hadist kah?,, terus semangat dalam menghapalnya 

Jangan banyak mengeluh, serahkan semuanya kepada Allah SWT,

ومن يتوكل على الله فهو حسبه    

“Dan barangsiapa yang bertawakal (menyerahkan semuanya kepada Allah) maka Allah akan mencukupkan keperluannya.”

Selalu do’akan kedua Orang tua kita, keluarga, guru-guru, teman-teman dan orang-orang yang mengenal kita!

Perbaiki Niat, Niatkan belajar dan beramal karena Allah, mengamalkan ilmu walaupun sedikit, beradab kepada guru, harus memilah dan memilih teman yang baik, Istiqomah dalam beribadah kepada Allah SWT, tetap semangat dalam menghapal ilmu Allah. Selalu bertwakal dan bertaqwa kepada Allah. Teruslah menggapai cita-citamu, jadilah seorang ulama yang mumpuni banyak ilmu, banggakan semua orang yang mendukungmu terutama kedua orang tua kita. Aku berharap kita yang akan menjadikan keluarga kita bersama kembali di Surga Firdaus-Nya Ammmiiinn,,

من يريد الله به خيرا يفقه في الدّين

Jadikan Islam sebagai Ideologi, prilaku kita yang islami

Jaga diri,
Jaga Agama,
jaga kesehatan

بارك الله في عمرك, عس ان تكون إمرأة صالحة وخالصة ونافعة للأمّة............

الّلّهمّ اجعلنا من علماء المسلمين والمخلصين والنافعين والمتّقين.... أمّين ياربّ العالمين

Salam untuk Keluarga di Rumah, اللهمّ اغفر لنا ولوالدين وارحمها كما ربّنا صغار 

Sa’adah Alkayyis
Dede Siti Halimatus Sa’adah, 29 Maret 2019 17:21 Jum’at Mubarakah

Ma’had ‘Aly Hidayaturrahman, Pilang, Masaran, Sragen Jawa Tengah






Perhatian Dalam Mengamalkan Ilmu



                                                                     

                                                                       السّلام عليكم ورحمة الله وباركاته     Dede Siti Halimatus Sa'adah

                                                     18 April 2019, Ma’had ‘Aly Hidayaturrahman, Sragen  Jawa Tengah

Apa kabarmu hari ini?, semoga kau selalu berada dalam lindungan Allah Swt, ya tak lebih aku hanya ingin melontarkan beberapa nasihat untukmu bahkan untukku juga, semoga kamu senang dan bisa menerimanya dengan hati yang baik, Amiin

Perhatian dalam mengamalkan ilmu agama merupakan  sebab terbesar semakin kokoh dan mantapnya ilmu agama (ilmu syar’i) yang telah kita dapatkan. Jika amal tidak diperhatikan alias ditinggalkan, maka hilang lah ilmu.

Dari Ali bin Abi Thalib ra beliau berkata,

هتق بالعلم العمل؟ فإن أجابه وإلا ارتحل

“Amal itu memanggil dengan sebab ilmu. Jika panggilan itu direspon, (maka itulah yang diharapkan). Jika tidak, maka dia akan pergi”

Oleh karena itu, amal adalah sebab kokohnya ilmu. Asy-Sya’bi rahimahumullah Ta’ala berkata,

كنًّا نستعين على حفظ الحديث بالعمل به

"Dulu kami berusaha untuk menghapal hadist dengan mengamalkannya”

Saking kita harus mengamalkan ilmu yang telah dipelajari, percuma mempunyai ilmu jika tidak dibarengi dengan pengamalan. Maka dari itu sedikit ilmu tapi mengamalkan lebih utama dari pada banyak ilmu tapi tidak mengamalkan.

Ingat antum harus bisa melebihi orang-orang yang antum paling bisa. Loncati mereka dengan pengamalan ilmu antum yang antum dapat meskipun sedikit!

Terus-teruslah berdoa, karena Allah mempunyai banyak hikmah dan pahala jika kita mengamalkan ilmu-Nya. Aku doakan semoga kau mampu dalam menuntut ilmu disana, mimpilah dengan cita-cita dan semangat yang tinggi. Harus menjadi pribadi yang dapat membawa diri dan orang lain menuju kebaikan, kesabaran dan keistiqomahan yang hakiki.

Karena dunia ini hanyalah tempat untuk menanam benih amal untuk akhirat. Ingat perkataan Ali bin Abi Thalib, “Jadilah kalian sebagai anak-anak akhirat jangan menjadi anak-anak dunia, karena akhirat adalah tempat penghisaban amal sedangkan dunia adalah tempat beramalnya”. Jadi, semangat dalam belajar, terus kejar mimpimu

Lantunkan selalu doa Nabi SAW,

الّلهمّ إنّي أسألك علما نافعا, وزقا طيّبا, وعملا متقبّلا

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima

SINTA NUR KHOTIMATUL MAULIDA, Pondok Pesantren Nurul Hidayah, Tasikmalaya



                                                                                   والسّلام عليكم ورحمة الله وباركاته      Sa’adah Alkayyis







Tafsir Surat An-Nisa, ayat 32

Surat An-Nisa Ayat 32

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagianmu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi seorang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. 4/32)

    Imam Ahmad meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata: "Ummu Salamah berkata: 'Wahai Rasulullah! kaum laki-laki dapat ikut serta berperang, sedangkan kami tidak diikutsertakan berperang dan hanya mendapat setengah bagian warisan. Maka Allah SWT menurunkan firman-Nya: 'Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagianmu lebih banyak dari sebagian yang lain." (HR. At-Tirmidzi)

    Ali bin Abi Thalib menceritakan dari Ibnu Abbas tentang ayat ini, ia berkata: "Hendaklah laki-laki tidak berkhayal, dan ia berkata: 'Seandainya aku memiliki harta si Fulan dan keluarganya.' (Maka Allah melarang hal itu), akan tetapi (hendaklah) ia memohon kepada Allah SWT dari karunia-Nya. Al-Hasan, Muhammad bin Sirrin, 'Atha dan Adh-Dhahhak juga berkata demikian. Itulah makna yang tampak dari ayat ini. Hal ini tidak menolak hadist yang terdapat dalam hadist shahih:

لا حسد إلاّ في اثنتين, رجل اتاه الله مالا فسلّطه على هلكته في الحقّ, فيقول رجل: لو أنّ لي مثل ما لفلان, لعملت مثله فهما في الأجر سواء

Tidak boleh iri hati, kecuali dalam dua hal: diantaranya terhadap seseorang yang diberikan harta oleh Allah, lalu dihabiskan penggunaannnya dalam kebenaran, lalu seseorang berkata: 'Seandainya aku memiliki harta seperti si Fulan, niscaya aku akan beramal sepertinya. 'Maka pahala keduanya adalah sama."

     Sesungguhnya hal tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh ayat. Dimana hadist itu menganjurkan untuk berharap mendapatkan nikmat seperti yang dimiliki oleh orang itu, sedangkan ayat tersebut melarang berharap mendapatkan pengkhususan nikmay tersebut.

    Allah berfirman: "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagianmu lebih banyak dari sebagian yang lain." Yaitu dalam perkara dunia dan agama, berdasarkan hadist Ummu Salamah dan Ibnu Abbas. Demikian pula, Ibnu Abi Rabbah berkata: "Yata ini turun berkenaan dengan larangan iri hati terhadap apa yang dimiliki seseorang dan juga iri hati wanita untuk menjadi laki-laki sehingga mereka dapat berperang." (HR. Ibnu Jarir)

    Lalu firman-Nya: "(Karena) bagi seorang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan dan bagi para wanita pula ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan," Yaitu, masing-masing mendapatkan pahala sesuai dengan amal yang dilakukannya. Jika amalannya baik, maka pahalanya adalah kebaikan dan jika amalannya jelek, maka balasannya adalah kejelekan pula. Inilah pendapat Ibnu Jarir.

   Kemudian Allah mengarahkan mereka pada sesuatu yang memberikan maslahat (kebaikan) bagi mereka dengan firman-Nya: "Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunianya." Janganlah kalian iri hati terhadap apa yang telah Kami karuniakan kepada sebagian kalian, karena hal ini merupakan suatu keputusan. Dalam arti bahwa iri hati tidak merubah sesuatu apapun. Akan tetapi mohonlah kalian kepada-Ku sebagian dari karunia-Ku, niscaya Aku akan berikan pada kalian. Sesungguhnya Aku Maha pemurahh lagi Maha pemberi.

    Kemudian Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu" Yaitu, Allah Maha mengetahui siapa yang berhak memperoleh dunia, maka Dia akan memberikan kepadanya, siapa yang berhak fakir, maka Dia akan memfakirkannya. Dan Allah pun Maha mengetahui siapa yang berhak memperoleh akhirat, maka Dia akan memantapkannya terhadap amalnya. Dan terhadap orang yang berhak mendapat kehinaan, maka Dia pun akan menghinakannya sehingga ia tidak dapat menjalankan kebaikan dan sarana-sarananya. 
Untuk itu Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala sesuatu."

Waallahu'Alam bis Shawab.

Tafsir Ibnu Katsir, Dr. Abdullah bin Muhammad Alu Syaikh, jilid 2, hlm. 371

Kamis, 28 Maret 2019

Ikhlas Dalam Menuntut Ilmu


Ikhlas Dalam Menuntut ilmu

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rohimahulloh pernah ditanya: “Bagaimanakah cara agar bisa ikhlas dalam menuntut ilmu?”

Beliau menjawab:

Ikhlas dalam menuntut ilmu itu bisa dicapai dengan beberapa hal:

Pertama,  belajar dengan niat melaksanakan perintah Allah. Karena Allah telah memerintahkannya, Allah berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“Maka ketahuilah bahwasanya tiada sesembahan yang hak selain Allah dan mintalah ampun atas dosa-dosamu.” (QS. Muhammad: 19)

Dan Allah subhanahu wa ta’ala juga mendorong orang supaya menuntut ilmu. Sedangkan dorongan Allah atas sesuatu memberikan konsekuensi kecintaan dan keridhoan Allah terhadap hal itu.

Kedua,  belajar dengan niat menjaga syariat Allah. Karena menjaga syariat Allah hanya bisa dilakukan dengan mempelajari dan menghafalkannya, dan bisa juga dengan mencatat.

Ketiga,  belajar dengan niat untuk melindungi syariat dan membelanya. Karena seandainya tidak ada ulama niscaya syariat tidak akan terlindungi. Dan tidak ada seorang pun yang menjadi 
pembelanya. Oleh sebab itu, misalnya, kita dapati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan ulama yang lainnya bersikap lantang memusuhi ahli bid’ah dan membeberkan kebatilan bid’ah-bid’ah mereka, maka kami berkeyakinan bahwa mereka itu memperoleh kebaikan (pahala) banyak sekali.

Keempat,  belajar dengan niat mengikuti syariat Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam. Karena tidak mungkin bisa mengikuti syariat beliau kecuali bila sudah mengetahui isi syariat ini.
Kelima,  belajar dengan niat menghilangkan kebodohan dari dirimu sendiri dan orang lain (Diambil dari Kitabul ‘Ilmi, hal. 199, cetakan Daar Ats Tsuraya).




Pandai Memanfaatkan Waktu



Pandai Memanfaatkan Waktu

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rohimahulloh juga pernah ditanya: Apakah saran anda tentang pemanfaatan waktu dan bagaimana cara menjaganya agar tidak terbuang sia-sia?
Beliau menjawab:
Para penuntut ilmu sudah semestinya menjaga waktunya agar tidak terbuang sia-sia. Sedangkan penyia-nyiaan waktu itu memiliki beberapa bentuk:

  • Pertama, tidak mau mengingat-ingat pelajaran dan tidak membaca lagi apa yang sudah pernah dipelajari
  • Kedua, duduk-duduk bersama dengan teman-temannya dan membicarakan permasalahan yang sia-sia dan tidak berfaedah.
  • Ketiga, ini merupakan yang paling berbahaya bagi penuntut ilmu. Yaitu dia tidak punya keinginan selain membuntuti ucapan orang, si anu bilang demikian, si itu bilang begini. Apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, padahal perkara itu tidak penting bagi dirinya. Tak diragukan lagi bahwa perbuatan ini jelas termasuk tanda kelemahan Islam di dalam dirinya. Karena Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مِن حُسْنِ إسلام المرء تركه ما لا يَعنيه

“Salah satu tanda kebaikan Islam seseorang adalah mau meninggalkan perkara yang tidak penting baginya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir)

       Menyibukkan diri dengan kabar yang tersebar dari mulut ke mulut serta terlalu banyak bertanya adalah perbuatan menyia-nyiakan waktu. Pada hakikatnya ini adalah penyakit. Apabila penyakit itu sudah menjangkiti seseorang dan menjadi tekadnya yang terbesar -kita mohon keselamatan darinya kepada Alloh- maka terkadang hal itu menimbulkan permusuhan dengan orang yang sebenarnya tidak layak untuk dimusuhi, atau membela orang yang sebenarnya tidak layak untuk dibela, hanya gara-gara terlalu memperhatikan urusan tersebut, sampai-sampai membuatnya lalai untuk menimba ilmu. Dia berdalih bahwa hal itu dilakukannya demi memperjuangkan kebenaran. Padahal sebenarnya tidaklah demikian. Akan tetapi perbuatan ini justru membuat diri seseorang disibukkan dengan urusan yang tidak penting baginya.

      Adapun apabila tiba-tiba datang berita tanpa kau cari-cari dan tanpa kau minta maka setiap orang juga menerima berita, namun tidaklah hal itu membuat mereka sibuk dengannya, dan itu juga tidak menjadi keinginannya yang terbesar. Sebab hal ini tentu saja akan menyibukkan penuntut ilmu dan menjadikan urusannya berantakan, bahkan bisa menyebabkan terbukanya pintu hizbiyah (fanatisme kelompok) sehingga menimbulkan perpecahan.” (Diterjemahkan dari Kitabul ‘Ilmi, hal. 205 Daar Ats Tsuraya).

Persahabatan



Suka Duka Persahabatan



       Allah SWT berfirman: “Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugrahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shadiqqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah sahabat yang sebaik-baiknya”. (QS. An-Nissa: 69)

Sahabat saudariku fillah..

     ‘Alhamdulillah’ itulah kata pertama kali yang kita ucapkan manakala Allah menganugrahkan kepada kita sahabat-sahabat yang baik. Namun terkadang kenyataan tak seindah yang diharapkan. Allah memperkenalkan kepada kita beberapa teman dengan berbagai karakter dan bentuk fisik yang berbeda. Subhanallah, dunia penuh warna.

      Ada teman yang bersifat keras, dialah teman yang sebetulnya mendidik kita untuk berani dan bersikap tegas
      Ada teman yang lembut, dialah teman yang mengajarkan kepada kita cinta dan kasih sayang terhadap sesama
      Ada teman yang cuek dan masa bodoh, dialah teman yang membuat kita berpikir bagaimana agar kita bersikap perhatian terhadap orang lain
      Ada teman yang tidak bisa dipercaya dan kata-katanya sulit untuk dipegang kebenarannya, sebetulnya dialah yang membuat kita berpikir dan merasa betapa tidak enaknya dikhianati, maka belajarlah untuk menjadi orang yang dapat dipercaya
      Ada teman yang jahat dan hanya memanfaatkan kebaikan orang lain, sebenarnya dia adalah orang yang membuat kita berpikir bagaimana bisa berbuat banyak kebaikan namun tetap waspada
Itulah beragam karakter manusia, Allah memperkenalkan mereka kepada kita agar lebih bijak menyikapai kehidupan dan bisa mengambil hikmah darinya dengan saling melengkapi

         Namun demikian Islam yang mulia ini memberikan rambu-rambu dalam memilih teman sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya perumpamaan teman yang sholeh dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Seorang penjual minyak wangi bisa memberiimu atau kamu membeli darinya atau kamu mendapatkan wanginya. Dan seorang pandai besi bisa membuat pakaianmu terbakar atau kamu mendapatkan bau yang tidak sedap” (HR. Bukhori dan Muslim)

“Seorang insan itu bergantung kebiasaan teman karibnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang dijadikan teman karibnya” (HR. Tirmidzi)

Sahabat saudariku fillah..

        Orang akan mengetahui karakter kita yang sebenarnya dari teman kita. Oleh karena itu berhati-hatilah dalam memilih teman. Tidaklah pantas kita berteman dengan orang yang tidak mendatangkan kebaikan baik untuk urusan dunia maupun akhirat. Sungguh, sendirian itu lebih baik daripada berteman dengan orang yang jahat. Namun selama bisa mencari teman yang baik mengapa harus sendirian?

Tidak bisa mencari teman yang baik adalah bukti kelemahan diri, namun akan lebih lemah apabila menyia-nyiakan sahabat yang baik yang telah kita peroleh dengan susah payah.

Saudaraku..

       Janganlah meninggalkan teman yang sebelumnya berhati lurus namun tiba-tiba berubag karena sebab, rangkul kembali dan ajaklah meniti kembali jalan kebenaran karena kalau kita tinggalkan bagaimana yang bengkok menjadi lurus?  Kuatkan kendali diri agar kita bisa meluruskan kembali jalan yang bengkok

Nilai sebuah persahabatan

  Umar bin Khattab ra berkata: Tidaklah seorang hamba diberi kenikmatan yang lebih besar setelah keislaman, selain sahabat yang shalih. Maka apabila kalian mendapati teman yang shalih, peganglah ia erat-erat

  Imam Syafi’i berkata: Apabila kalian memiliki teman yang membantu dalam ketaatan, maka genggam erat tangannya, karena mendapatkan seoramg sahabat itu sulit sedangkan berpisah darinya itu mudah

  Hasan al-Bashri berkata: Sahabat-sahabat kami lebih kamu cintai daripada keluarga dan anak-anak kami, karena keluarga kami pada dunia, sedangkan sahabat-sahabat kami mengingatkan kami pada akhirat. Dan sebagian sifat mereka adalag itsar atau mendahulukan orang lain dalam  perkara dunia

  Luqman al-Hakim berkata pada anaknya: Wahai anakku, hendaknya yang pertama engkau usahakan setelah keimanan kepada Allah adalah mencari sahabat yang juujur. Karena ia ibarat pohon, bila engkay duduk berteduh di bawahnya, ia akan meneduhimu,bila engkau mengambil buahnyadia akan mengenyangkanmu dan bila ia tidak memberimu manfaat maka ia akan merugikanmu

  Ketika Imam Ahmad sakit, sampai terbaring di tempat tidurnya, sahabat sekaligus gurunya beliau, Imam Syafi’i menjenguknya. Maka tatkala Imam Syafi’i melihat sahabatnya sakit keras, beliau sangat sedih, sehingga menjadi sakit karenya. Maka ketika Imam  Ahmad mengetahui hal ini, beliau menguatkan diri untuk menjenguk Imam Syafi’i. Ketika beliau melihat Imam Syafi’i beliau berkata: Kekasihky sakit dan aku menjenguknya. Maka aku ikut menjadi sakit karenanya. Kekasihku telah sembuh dan ia menjengukku, maka aku menjadi sembuh setelah melihatnya

Ya Allah berikan kepada kami sahabat-sahabat yang shalih

Allah berfirman: 

وسيق الذين اتقوا ربهم إلى الجنة زمرا

Ibnu Qoyyim menafsirkan ayat ini: Allah enggan memasukkan manusia ke dalam surga dalam keadaan sendirian. Maka setiap orang akan masuk surga bersama-sama dengan sahabatnya
Aku memohon kepada Allah, dengan nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya yang mulia, agar kita menjadi sahabat sejati dalam ketaatan, yang kelak tangan-tangan ini akan menggandeng tangan yang lain memasuki surga-Nya

Amiiin yaa Rabbal’aalamiiin

S A H A B A T

Saat aku terjatuh engkau senantiasa berusaha membuatku bangkit
Saat aku tersenyum, engkau pun tersenyum dengan indah
Saat aku sedih, engkau senantiasa menghiburku
Dan saat aku melakukan kesalahan, engkau senantiasa menegurku

Tidak mengenal waktu, tempat, kapan dan dimana
Engkau selalu siap siaga membantuku
Engkau selalu membantuku disaat aku kesulitan
Engkau selalu ada saat aku membutuhkanmu

Persahabatn sejati layaknya kesehatan, nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya. Jagalah apapun yang telah menjadi milikmu dengan baik karena suatu hari ketika dia pergi dari hidupmu kau tak akan menyesalinya

Sahabat seperti matahari di waktu siang
Seperti bulan dan bintang di waktu malam
Dan seperti pelangi di waktu hujan

Seorang sahabat adalah yang dapat mendengarkan lagu didalam hatimu dan akan menyanyikan kembali tatkala kau lupa akan bait-baitnya

Sahabat adalah mereka yang tahu ketika kamu bersedih atau terluka, bahkan jika kamu menyembunyikan semua dibalik sebuah senyuman

Bertemanlah dengan orang yang suka membela kebenaran. Dialah hiasan dikala kita senang dan perisai di waktu kita susah

Namun kita tidak akan pernah memiliki seorang teman, jika kita mengharapkan seseorang tanpa kesalahan. Karena semua manusia itu baik kalau kita bisa melihat kebaikannya dan menyenangkan kalau kita bisa melihat keunikannya tapi semua manusia itu akan buruk dan membosankan kalau kita tidak bisa melihat keduanya

Seorang sahabat adalah dorongan ketika engkau hampir berhenti, petunjuk jalan ketika engkau tersesat, membiasakan senyuman sabar ketika engkau berduka, memapahmu saat engkau hampir tergelincir dan mengalungkan butir-butir mutiara do’a pada dadamu

Sahabat yang beriman ibarat mentari yang menyinar. Sahabat yang setia bagai pewangi yang mengharumkan. Sahabat sejati menjadi pendorong impian. Sahabat berhati mulia membawa kita ke jalan Allah.. InsyaAllah

Sahabat sejati adalah seseorang yang manakala kita tegak, ia tegak disamping kita dan manakala kita lemah serta nyaris terjatuh, maka ia akan mengingatkan dan menopang kita

Semoga kita semua mampu dan bisa menjadi sahabat yang baik untuk teman-teman kita. Amiiinn  ya Rabal’alamiiin

Teruntuk sahabat, teman karibku
#Dhefahri
#Ak5_AhsanuQurun
#Ak13_AdzroulJinan
#Semua teman yang pernah mengenalku
Terimakasih telah hadir dalam kehidupanku, semoga selalu bersama kelak di Surga Firdau-Nya. Amiinn 

@Sa’adah_Alkayyis

Semoga kita semua mampu dan bisa menjadi sahabat yang baik untuk teman-teman kita. Aamiin Ya Robbal'alamiin...

Intisari Surat Al-Kahfi

Coba renungkan apakah isi dan kandungan dari Surat Al-Kahfi ini relevan dengan keadaan sekarang? Atau setidaknya mirip?

Silakan amati ya. 

Di dalam Surat Al-Kahfi ada 4 ujian bagi manusia.

      1. Ujian tentang agama atau keimanan dari kisah ashabul kahfi yang tidur di dalam gua selama bertahun-tahun. 

Solusi ujian ini adalah berkawan dengan orang yang baik, saleh, dan beriman.

      2. Ujian tentang harta dan anak dari kisah 2 pemilik kebun yang berorientasi pada dunia dan akhirat.

Solusi ujian ini adalah memahami soal hakikat dunia yang sementara, sedangkan akhirat adalah tujuan utamanya.

     3. Ujian tentang ilmu dan sabar dari kisah Nabi Musa dan Khidir, bahwa ilmu itu juga perlu adab dan tawadhu.

Solusi ujian ini adalah mengedepankan adab dan ilmu dengan tujuan semata-mata menambah iman kepada Nya.

    4. Ujian tentang kekuasaan dari kisah antara Raja Zulkarnaen dengan Yakjuj dan Majjuj.

Solusi ujian ini adalah ikhlas bahwa jabatan itu amanah dan seyogianya digunakan untuk menegakkan agama Allah.

Dalam surat ini pun kita diingatkan akan fitnah yang akan terjadi apabila Dajjal hadir di bumi. 

Dajjal akan hadir di bumi dengan 4 macam fitnah. 

     1. Dajjal akan meminta manusia menyembah dirinya. Di sinilah ujian soal keimanan.

     2. Dajjal mampu datangkan hujan dan kekayaan. Ini adalah ujian harta dan kekayaan.

     3. Dajjal tahu apa yang manusia tidak tahu. Inilah ujian soal ilmu.

     4. Dajjal akan kuasai beberapa wilayah di dunia. Inilah ujian soal kekuasaan. 

Lalu bagaimana kita terhindar dari fitnah Dajjal? 

Salah satunya adalah mengamalkan doa ini sebagaimana riwayat Muslim

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Jika salah seorang di antara kalian melakukan tasyahud, mintalah perlindungan pada Allah dari empat perkara: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari siksa Jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah hidup dan mati, dan dari kejelekan fitnah Al Masih Ad Dajjal” (HR. Muslim no. 588).

Lalu, bisa mengamalkan dan membaca Surat Al-Kahfi seperti dalam riwayat Muslim.

Dari An Nawas bin Sam’an, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَمَنْ أَدْرَكَهُ مِنْكُمْ فَلْيَقْرَأْ عَلَيْهِ فَوَاتِحَ سُورَةِ الْكَهْفِ

“Barangsiapa di antara kalian mendapati zamannya Dajjal, bacalah awal-awal surat Al Kahfi” (HR. Muslim no. 2937).

Jadi, sudahkah kita membaca Surat Al-Kahfi hari ini? 

Selesai membaca surat ini, sama saja dengan menyelesaikan setengah juz. Jikapun berat membacanya, bisa saja dicicil agar lebih ringan, hingga akhirnya terbiasa.

Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib, Seorang Bidan Muslimah

        Ummu Kultsum putri Ali bin Abi Thalib, seorang laki-laki (dari kalangan pemuda) yang pertama masuk Islam dan memiliki kedudukan sangat tinggi di sisi Rasulullah SAW. Dia khalifah ke-4 dari Khulafaur Rasyidin, semoga Allah meridhai mereka semua. Sedangkan kakek Ummu Kultsum adalah pemimpin anak Adam as, dan ibunya pemimpin kaum wanita penduduk surga, yaitu Fathimah binti Rasulullah SAW. Kedua saudaranya adalah dua pemimpin pemuda penduduk surga dan kesayangan Rasulullah (yaitu Hasan dan Husein).

       Ummu Kultsum dilahirkan pada masa Nabi SAW di lingkungan yang mulia hingga dewasa. Ia menjadi teladan gadis muslimah yang tumbuh diatas agama, keutamaan dan sifat malu.

       Al-faruq Umar bin Khaththab Amirul Mukiminin, khalifah ke-2 dari Khulafaur Rasyidin, datang ke bapaknya dalam rangka melamarnya. Tetapi Ali bin Abi Thalib tidak memenuhi disebabkan Ummu Kultsum yang masih kecil. Lalu Umar berkata kepadanya: "Nikahkanlah aku dengannya wahai Abul Hasan, sesungguhnya aku melihat kemuliaan padanya yang tidak dimiliki oleh orang lain." (As-Ishabah oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani 8/275)
Maka Ali merelakan dan menikahkannya dengan putrinya. Umar menikahinya pada bulan Dzulqadah tahun 17 H dan Ummu Kultsum senantiasa menyertai Umar hingga dia terbunuh. Dalam pernikahan ini ia melahirkan Zaid bin Umar Al-Akbar dan Ruqayyah binti Umar.

       Diantara perbuatan Ummu Kultsum istri Amirul Mukminin yang mengesankan adalah ketika Umar keluar pada suatu malam seperti biasanya untuk memperhatikan rakyatnya. Ini adalah keadaan pemimpin kepada rakyatnya di dalam naungan negara Islam. Ketika dia melewati suatu tanah lapang di Madinah, tiba-tiba dia mendengar rintihan seorang perempuan yang eluar dari sebuah rumah bulu (kemah) dan ada seorang laki-laki yang berdiri pada pintunya.

       Umar memberi salam kepadanya dan bertanya tentang dirinya. Kemudian laki-laki itu menceritakan bahwa dirinya berasal dari daerah pegunungan, datang ke (Madinah) dalam rangka ingin memperolah kemurahan Amirul Mukminin. Lalu Umar bertanya kepadanya tentang wanita yang didengar rintihannya.

       Maka laki-laki tersebut berkata dalam keadaan tidak mengetahui bahwa yang berbicara dengannya adalah Amirul Mukminin: "Pergilah engaku kepada pekerjaanmu semoga Allah merahmatimu dan janganlah engaku bertanya tentang sesuatu yang tidak penting bagimu."

       Umar bertanya dengan mendesak dan dia tiba menawarkan bantuan kepadanya jika memungkinkan. Maka laki-laki itu menjawab: "Sesungguhnya dia adalah istriku yang akan melahirkan dan tidak ada seorang pun disisinya."

        Umar kemudian meninggalkan laki-laki tersebut dan kembali ke rumahnya dengan tergesa-gesa. Dia menemui istrinya Ummu Kultsum dan berkata kepadanya: "Apakah kamu menginginkan pahala yang akan Allah berikan kepadamu?"

        Ia menjawab dalam keadaan dipenuhi rasa gembira terhadap kabar gembira yang menyenangkan ini: "Kebaikan dan pahala apa itu wahai Umar?"

        Umar mengabarkan peristiwa yang baru dialaminya. Setelah itu dengan segera ia berdiri dan membawa peralatan melahirkan serta segala sesuatu yang dibutuhkan bayi. Sementara Amirul Mukminin membawa periuk yang berisi mentega dan biji-bijian. Lalu dia dan istrinya berangkat hingga sampailah ke rumah bulu (kemah) tersebut.

        Ummu Kultsum masuk menemui seorang perempuan untuk membantu dan melayaninya sebagai layaknya seorang bidan. Sedangkan Amirul Mukiminin duduk bersama laki-laki tersebut di luar rumah sambil memasak makanan yang dibawanya. Ketika perempuan tersebut telah melahirkan anaknya, Ummu Kultsum berkata dari dalam rumah bulu: "Wahai Amirul Mukminin, berilah kabar gembira kawanmu itu. Sesungguhnya Allah telah memberi rizki seorang anak laki-laki kepadanya."

        Maka tercenganglah orang Badu'i tersebut, ternyata orang yang memasak makanan dan meniup api di hadapannya adalah Amirul Mukminin. Demikian pula tercenganglah wanita Badu'i itu bahwa wanita yang membantunya melahirkan adalah istri Amirul Mukminin.

        Terheran-heranlah para pengekor pemilik peradaban-peradaban palsu tatakala mereka melihat kenyataan bahwa peradaban Islam mampu membuat kepala negara bersama istrinya sebagai pelayan seorang laki-laki dan wanita dari penduduk Badu'i.

         Setelah itu muncullah tangan yang berdosa lagi dendam terhadap Islam dengan membunuh Amirul Mukminin Umar bin Khaththab. Ummu Kultsum pun menjadi janda. Tatkala Ummu Kultsum wafat, Ibnu Umar dan Zaid bin Umar menshalatinya. Ibnu Umar menempatkan Zaid disampingnya dan bertakbir 4 kali.

 "Ya Allah, ya Rabb kami, ridhailah Ummu Kultsum seorang bidan muslimah."

referensi:
Sirah Shahabiyah, Mahmud Mahdi Al-Istambuli
      

Sufyan bin Uyainah

Sufyan bin Uyainah

Oleh:
 Dede Siti Halimatus Sa’adah 

           A. Biografi

      Sufyan bin Uyainah adalah seorang imam dan ahli hadist di tanah haram Makkah. Beliau menuntut ilmu hadist sejak berusia 10 tahun, mendapatkan ilmu yang banyak dan kuat hafalannya. Beliau sempat bertemu dengan 87 tabi’in dan mendengar hadist dari 70 orang diantara mereka. Yang paling terkenal adalah Ja’far ash-Shadiq, Humaid ath-Thawl dan Abdullah bin Dinar.

Beliau bernama, Abu Muhammad Sufyan bin Uyainah bin Abu Imran Maimun. Beliau lahir di Kuffah pada bulan Sya’ban tahun 107 H, julukan beliau adalah “Abu Muhammad Al-Hilali Al-Kufi Al-Makki”, seorang budak Muhammad bin Muzahim saudara kandung ad-Dhahak bin Muzahim . Namun dalam pendapat lain disebutkan bahwa beliau adalah bekas budak Bani Hasyim, Sufyan bin Uyainah adalah seorang imam besar dan hafidz dimasanya. Menurut Adz-Dzahabi, beliau dilahirkan pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 107 H di kota Kuffah dan beliau dipindah oleh ayahnya ke Mekkah

Ibnu Sa’ad berkata, “Sufyan bin Uyainah berasal dari Kuffah. Dia pembantu Khalid bin Abdillah al-Quraisyi, ketika Khalid bin Abdillah diturunkan dari jabatannya di Irak dan diganti oleh Yusuf bin Umar ats-Tsaqafi, maka Yusuf mencari para pembantu Khalid. Akibatnya, para pembantu Khalid termasuk Sufyan bin Uyainah melarikan diri sehingga bertemu dengan Uyainah bin Imran di Makkah. Selanjutnya, Sufyan bin Uyainah menetap disana.”  

Sufyan menuturkan, “Aku masuk kota Kuffah, sementara usiaku belum genap 20 tahun. Lalu Abu Hanifah mengatakan kepada murid-muridnya dan penduduk Kuffah. “Telah datang kepada kalian seorang penghafal dan penukil ilmunya Amru bin Dinar (seorang ulama dari Mekkah)”. Sejak saat itu, orang-orang datang kepadaku untuk bertanya tentang Amru bin Dinar. Sehingga orang yang memiliki andil untuk menjadikanku sebagai ahli hadist adalah Abu Hanifah. Ia berkata kepadaku, “Wahai anakku, aku belum pernah mendengar hadist dari Amru bin Dinar kecuali hanya tiga”.

           B. Sifat Fisiknya

      Sebagaimana yang disampaikan oleh al-Mizzi, Sufyan bin Uyainah adalah seorang yang bermata juling. 

          C. Perjalanan Menuntut Ilmu

Syu’bah bin al-Hajaj berkata, “Saya melihat Ibnu Uyainah orang yang masih kecil, dia membawa papan yang panjang ketika belajar pada Amru bin Dinar”

Yahya bin Adam berkata, “Saya tidak melihat seorang pun yang tidak salah ketika diuji hafalan hadistnya kecuali Sufyan bin Uyainah”

Ziyad bin Abdullah bin Khuza’i mendengar Sufyan bin Uyainah berkata, “Dahulu ayahku adalah seorang penukar uang di kota Kuffah, maka ketika kamu telah sampai di kota Mekkah kemudian menuju mesjid, tanpa sengaja aku bertemu dengan Amru bin Dinar (seorang ulama besar di zamannya). Dia membacakan kepadaku 8 hadist, lalu saya memegang tali keledainya sehingga dia shalat. Maka ketika dia keluar dari mesjid saya setorkan 8 hadist yang telah disampaikannya, maka diapun berdoa ‘Semoga Allah memberkahi dirimu’”

Ibnu Al-Madini mendengar Ibnu Al-Uyainah berkata, “Saya belajar paada Abdul Karim Al-Hazari selama 2 tahun dan dia berkata kepada penduduk kotanya, “Perhatikanlah anak kecil ini, dia bertanya kepadaku sedangkan kalian tidak bertanya kepadaku”,

Mujahid bin Musa mendengar Ibnu Uyainah berkata, “Aku menulis sesuatu melainkan telahku hafalkan sebelum menulisnya”

      Begitulah kecerdasan yang dianugerahkan Allah SWT kwpadanya. Sejak kecil beliau bersemangat dalam menghafal hadist serta tekun menuntut ilmu. Sosok yang mumpuni dan tsiqoh dalam menjaga hadist-hadist Nabi-Nya. Dia juga sangat bagus dalam menjelaskan hadist. Sungguh perjalanan hidupnya bertabur dengan petunjuk dan barakah hingga menginspirasi kaum muslimin untuk lebih mencintai sunnah-sunnah Rasulullah SAW.

          D. Ilmunya yang luas

Harmalah bin Yahya berkata, “Aku telah mendengar Imam Syafi’i berkata: Aku belum pernah melihat orang yang memiliki piranti ilmu (ilmu alat untuk memahami al-Qur’an dan Hadist) sebagaimana yang dimiliki oleh Sufyan bin Uyainah. Dan aku belum pernah melihat orang yang lebih berhati-hati dalam berfatwa (tidak mudah untuk memberikan fatwa) dibandingkan dengannya”.

Imam Syafi’i berkata, “Aku mendapati hadist ahkam semuanya dihafal oleh Ibnu Uyainah kecuali hanya enam hadist saja, dan aku mendapatinya (hadist ahkam) semuanya ada pada Imam Malik kecuali hanya tiga puluh hadist saja” 

Imam Adz-Dzahabi menambahkan perkataan diatas:”Maka ini menjelaskan kepada anda tentang luasnya ilmu Sufyan, karena dia menggabungkan hadist-hadist dari orang Irak dan Hijaz, dan dia bertemu dengan banyak ulama (perawi hadist) yang tidak ditemui oleh Imam Malik. Dan keduanya adalag sepadan dalam masalah profesionalisme, akan tetapi Imam Malik lebih agung dan lebih tinggi, karena dia memiliki (guru) Nafi’ dan Sa’id al-Maqbari.” 

Abdurrahman bin Mahdi berkata,”Ibnu Uyainah termasuk salah seorang yang paling tahu tentang hadistnya penduduk Hijaz”. 

Imam Syafi’i berkata,”Ilmu berputar pada tiga orang Imam Malik, Imam Al-Laits dan Sufyan bin Uyainah”

Waqi berkata,”Kami menulis dari Ibnu Uyainah padahal Al-A’masi masih hidup”. Dan Ahmad bin Abdullah Al-Ajali juga berkomentar tentang Ibnu Uyainah, “Ibnu Uyainah sangat hafal di dalam masalah hadist, beliau mempunyai sekitar 7000-an hadist dan beliau tidak menulisnya dalam buku.” Dan Bahz Ibny Asad menambahkan,”Aku tidak pernah melihat seorangpun yang semisal dengan Sufyan bin Uyainah”, lalu ia ditanya “bagaimana dengan Syu’bah?, ia menjawab: tidak juga dengan Syu’bah” 

           E. Periwayatan Hadist Sufyan bin Uyainah

Abu Hatim Ar-Razi berkata,”Sufyan bin Uyainag adalah imam yang tsiqoh (terpercaya) dan dia adalah orang yang tahu tentang jalur Amru bin Dinar dari pada Syu’bah”.

Yahya bin Ma’in berkata,”Sufyan bin Uyainah adalah orang yang lebih tinggi  tsabat (terpercaya) terhadap hadist yang diriwayatkan dari Amru bin Dinar”. Diriwayatkan bahwa Sufyan bin Uyainah memiliki beberapa saudara yaitu Imran bin Uyainah, Ibrahim bin Uyainah, Adam bin Uyainah dan Muhammad bin Uyainah yang semuanya meriwayatkan hadist Sufyan bin Uyainah. Hanya saja Sufyan dikenal dengan taldis dalam meriwayatkan hadist dari jalur az-Zuhri dan tidaklah beliau mentaldis hadist darinya melainkan dari perawi yang tsiqoh (terpercaya)

           F. Guru-guru Sufyan bin Uyainah

      Beliau berguru kepada banyak syeikh,diantaranya:

     1) Amru bin Dinar
     2) Ibnu Syihab Az-Zuhri
     3) Ashim bin Abu Najud
     4) Abdullah bin Dinar
     5) Zaid bin Aslam
     6) Muhammad bin Al-Munkadir
     7) ‘Atha bin As-Saib
     8) Yahya bin Said Al-Anshari
     9) Sulaiman Al-A’masy
    10) Suhail bin Abu Shalih
    11) Ibnu Juraij
    12) Syu’bah
    13) Zaidah bin Qudamah dan banyak ulama lainnya

          G. Murid-muridnya

        Penuntut ilmu yang datang kepada beliau sangat banyak. Diantara yang meriwayatkan hadist darinya adalah Al-A’masy, Ibnu Juraij dan Syu’bah (guru-guru beliau sendiri). Murid-murid beliau diantarnya:

     1) Hamam bin Yahya
     2) Zuhair bin Mua’wiyah
     3) Abu Ishaq Al-Fazari
     4) Abdullah bin Al-Mubarak
     5) Yahya Al-Qaththan
     6) Muhammad bin Idris (Imam Syafi’i)
     7) Al-Humaidi
     8) Said bin Manshur
     9) Yahya bin Ma’in
   10) Ahmad bin Hanbal (Imam Ahmad)
   11) Abu Bakar bin Abu Syaibah
   12) Muhammad bin Al-Mutsanna
   13) Az-Zubair bin Bikar
   14) Mis’ar bin Kidam
   15) Ali bin Madini dan masih banyak murid-murid yang lainnya.

          H. Wafatnya

       Demikian indah sekilas kehidupan Sufyan bin Uyainah, seorang imam besar yang sangat luas ilmunya. Figur yang tegar berdakwa di jalan-Nya serta ahli ibadah yang selalu mengisi hari-harinya dengan iman serta amal shaleh. Beliau adalah sosok yang banyak melakukan ibadah haji.

Dari Hasan bin Imran bin Uyainah bin Abi Imran, keponakan Sufyan bin Uyainah ia berkata, “Aku pergi haji bersama pamanku, Sufyan bin Uyainah yaitu pada tahun 197 H. Setelah kami menunaikan shalat dengan cara dijamak, dia lalu berbarinh diatas tikarnya. Dalam keadaan terbaring itulah dia berkata: “Sungguh aku telah mendatangi tempat ini selama tujuh puluh tahun lamanya, setiap tahunnya aku memohon “Ya allah, janganlah Engkau jadikan hajiku kali ini sebagai kesempatan haji terakhirku. Dan sekarang sungguh aku malu sekali kepadda Allah karena begitu banyaknya aku memohon kepada-Nya” 

Kemudian Ibnu Uyainah kembali untuk pulang dan akhirnya dia meninggal pada tahun berikutnya, tepatnya pada hari sabtu, hari pertama bulan Jumadil Akhir tahun 198 H dan dimakamkan di Hajun. 

Kesimpulan 

      Sufyan bin Uyainah atau Ibnu Uyainah adalah seorang Imam Sunni dan ahli hadist di tanah haram Makkah. Julukan kunyahnya adalah “Abu Muhammad Al-Hilali Al-Kufi Al-Maki”. Nama lengkap beliau adalah Sufyan bin Uyainah bin Abu Imran Maimun, dia lahir di kota Kuffah pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 107 H. Beliau menuntut ilmu hadist sejak berusia 10 tahun mendapatkan ilmu yang banyak dan kuat hafalannya. Beliau juga sempat bertemu dengan 87 tabi’in dan mendengar hadist dari 70 orang diantara mereka. Yang paling terkenal adalah Ja’far Ash-Shadiq, Humaid Ath-Thawl dan Abdullah bin Dinar. Beliau tidak hanya mengumpulkan ilmu namun juga menuliskannya sampai kepada ‘uluwul isnad (riwayat tertinggi). Jumlah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Uyainah adalah sekitar 7000 hadist, dan dia tidak memiliki karya tulis berupa buku. Pada tahun 163 H ia pindah dari Kuffah ke Makkah, ia menetap di kota Makkah dan mengajar hadist dan Al-Qur’an kepada orang-orang Hijaz sampai wafatnya. Beliau meninggal pada bulan Jumadil Akhir 198 H dalam usia 91 tahun
WaAllahu’Alam bis Shawab

referensi: 
60 Bigrafi Ulama Salaf








Tipu Daya Organisasi Dunia Terhadap Islam

    Setiap muslim dan muslimah di seluruh dunia harus mengetahui tentang kedustaan dan fanatisme orang-orang orientalis dan Misionaris-kelompok pendengki dan tercela dari kaum Salibis dan Zionisme yang membuat makar terhadap islam.
    Dan sekarang kami akan mengakhiri pembahasan tentang kedustaan-kedustaan orang-orang orientalis dengan sebuah contoh yang beersumber dari organisasi resmi di negara Barat, khususnya organisasi PBB. Kehidupan wanita disana penuh dengan kesengsaraan dan kefasikan sepanjang masa.
Inilah salah satu pernyataan dusta organisasi ini terhadap Islam: "Sesungguhnya wanita Timur senantiasa terbelenggu, disana terdapat dinding pemisah antara kaum wanita dan kaum laki-laki. Yang menjadi sumber kejumudan dan kemunduran itu adalah ajaran Islam. Ajaran ini telah menghadang kebangkitan kaum wanita dan persamaan hak dengan kaum lelaki." (Dinukil dari Majalah al-Azhar juz 5 jilid ke-9 hlm. 428-429)
    Kita tidak menemukan penyebab utama yang terkait dengan berbagai kedustaan dan kepalsuan yang dimunculkan oleh orang-orang Misionarime dan Orientalisme dalam masalah ini dan masalah lainnya, kecuali sikap kedengkian mereka terhadap dasar-dasar ajaran Islam.
Padahal ajaran ini merupakan sumber kemuliaan dan kehormatan bagi seorang wanita muslimah. Bukti yang telah kita jelaskan dalam masalah ini akhirnya membuktikan bahwa orang-orang orientalis pura-pura bodoh tentang perbedaan kondisi wanita di setiap zaman.
     Padahal perbedaan kondisi wanita di setiap zaman, sebagaimana yang dikatakan Ustadz Muhammad Abdullah As-Saman: "Merupakan unsur pokok dalam pembahasan secara ilmiah" (Muhammad Abdullah As-Saman, Kedustaan UNESCO, hlm. 38)
    Mereka adalah orang-orang yang semangat untuk membuat kedustaan. Mereka berpura-pura tidak mengetahui tentang perbedaan kondisi wanita di masa jahiliyah sebelum Islam dengan kondisi wanita setelah datangnya Islam. Bahkan mereka berpura-pura tidak mengetahui perbandingan kondisi wanita dalam naungan Islam dengan kondisi wanita di alam kejahilan mereka sekarang ini.
    Di negara Barat sendiri kehidupan kaum wanita sangatlah jelek, sebagaimana hal ini dirasakan dan disaksikan oleh setiap orang yang memiliki akal yang sehat. Disana kaum wanita selalu menjadi objek kedzaliman dan perlakuan yang semena-mena, bahkan sangatlah murah harganya.
Walaupun mereka meneriaki persamaan hak antara wanita dan laki-laki. Persamaaan yang bagaimana?!
    Dan ternyata persamaan yang mereka teriakkan adalah persamaan yang rendah dan hina. Dan persamaan ini pula yang mendorong seorang wanita untuk bekerja sebagai tukang sapu di pinggir-pinggir jalan dan bekerja sebagai pembawa perbekalan orang yang hendak melakukan bepergian (menjadi kuli pembawa barang).
    Kebebasan apa yang selalu mereka kampanyekan?! Apa batasannya?!! Dan apa hasilnya?!
    Sungguh wanita Barat telah melepaskan dirinya dari setiap ikatan apapun dengan nama kebebasan menurunkan derajat kemulian kepada kerendahan. Sehingga akhirnya mereka menjadi barang dagangan yang sangat murah harganya bagi laki-laki yang bejat dan hidung belang. Bahkan permasalahn ini sampai kepada tingkatan dipamerkannya (tubuh) mereka di kebanyakan negara Eropa seperti barang-barang dagangan yang dipamerkan!!
   Naudzubillahhi min dzalik, Semoga kita semua terhindar dari hal-hal yang dapat mencoreng kehormatan martabat kaum wanita, karena Islam telah datang sebagai Rahmatan lil 'alamiin untuk semua makhluk-Nya.  

Selasa, 12 Maret 2019

Tata Cara Mandi Janabat Rasulullah SAW. Berdasarkan Hadist No. 29 dan 30


Tata Cara Mandi Janabat Rasulullah saw. Berdasarkan Hadist No. 29 dan 30
Oleh: Dede Siti Halimatus Sa’adah[1]
Sebagaimana kita ketahui bahwasannya ada banyak faktor yang mewajibkan kita untuk mandi janabat, seperti mandi karena keluar air mani, setelah haid, nifas dan lain-lain. Tapi apakah kita tahu bagaimana cara mandi janabat yang sesuai dengan yang disunnahkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wassallam, bagi kita yang menjadi kaum beliau harus sepatutnya tahu cara mandi yang disunnahkan oleh beliau itu. Maka wajib bagi muslim dan muslimah tahu caranya karena ini akan menjadi kebiasaan kita, adapun tata cara mandi janabat Rasulullah SAW. yang akan dibahas yaitu mengambil dari kitab Syarah Hadist Ahkam, hadist no 29 dan  30. Dari dua hadist ini terdapat 2 pendapat shabiyyah yang menjelaskan tentang tata cara mandi janabatnya Rasulullah SAW.
Al-Farra’ berkata, ”Mandi junub ada dua cara: cara pembagian dan cara kesempurnaan”. Sedangkan menurut para sebagian sahabat mereka mengatakan,”Mandi junub secara sempurna adalah dengan melakukan sepuluh hal: niat, membaca basmallah, mencuci kedua telapak tangan tiga kali, membasuh kotoran yang ada pada tubuh, berwudhu, menuangkan air ke kepala tiga kali, memastikan air mengenai kulit dan pangkal rambut, menuangkan air ke seluruh tubuh sebelah kanan, menggosok tubuh dengan tangan lalu berpindah dari tempat mandinya kemudian mencuci kedua kaki.” [2]
Menurut hadist no 29                               
Dari Aisyah ra. ia berkata,”ketika hendak janabat, Rasulullah SAW. terlebih dahulu mencuci  kedua telapak tangan, setelah itu berwudhu seperti wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh tubuhnya.”[3]
Menurut hadist no 30                              
Dari Maimunah binti Harist, istri Nabi SAW. ia berkata,”Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah SAW. beliau kemudian menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya  dua kali atau tiga kali. Lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, setelah itu beliau membasuh kemaluan, kemudian mengusapkan tangan ke tanah atau tembok sebanyak dua atau tiga kali. Setelah itu berkumur dan memasukan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh wajah dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyurkan air ke seluruh badannya.Setelah itu beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua kakinya (di tempat yang berbeda). Aku kemudian memberi handuk, namun beliau tidak mau mengenakannya. Beliau mengibaskan sisa-sisa air dengan kedua tangan beliau.”[4]
Dari dua hadist dapat disimpulkan tentang  tata cara mandi janabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wasallam, diantaranya:
1.      Mencuci kedua tangan tiga kali sebelum memasukannya ke dalam wadah sebelum mandi. Dari hadist Aisyah atau pun Maimunah pun menyebutkan seperti itu, hanya saja dalam hadist Aisyah, beliau hanya menyebutkan bahwa Rasulullah SAW. membasuh kedua tangan saja secara global, berbeda dengan hadist Maimunah yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW. mencuci kedua tangan 2 kali atau 3 kali.
Ibnu Hajar al-Asqolani rahimahullah mengatakan, boleh jadi tujuan untuk mencuci tangan terlebih dahulu disini adalah untuk membersihkan tangan dari kotoran atau tujuannya adalah karena mandi tersebut dilakukan setelah bangun tidur.[5]
                                 
2.      Mencuci kemaluan dengan tangan kiri.Dalam hadist Maimunah menyebutkan bahwa Rasulullah SAW. Setelah mencuci kedua tangan beliau mencuci kemaluannya dengan tangan kiri.

3.      Mengusapkan tangan ke tanah atau tembok. Dari hadist Maimunah,”Rasulullah SAW kemudian mengusapkan tangan ke tanah atau tembok sebanyak dua atau tiga kali”. Ulama menyebutkan, setelah digosok-gosokan ke tanah atau dibasuh dengan air agar menghilangkan kotoran yang menempel sesudah mencuci kemaluan tadi. Atau zaman sekarang membasuhkan kotoran bisa diganti dengan menggunakan sabun.
An-Nawawi rahimahullah mengatakan, disunnahkan bagi orang yang beristinja’ (membersihkan kotoran) dengan air, ketika selesai, hendaklah ia mencuci tangannya dengan debu atau semacamnya, atau hendaklah ia menggosokkan tangannya ke tanah atau tembok untuk menghilangkan kotoran yang ada[6].
                                                                               
4.      Berwudhu seperti wudhu untuk shalat. Hanya saja tentang mencuci kaki, terdapat perbedaan antara kedua hadist ini. Hadist Aisyah menunjukan bahwasannya Rasulullah SAW mencuci kaki sebelum memulai menyiram air ke kepala, sedangkan hadist Maimunah, Rasulullah SAW mencuci kaki setelah membasuh sekujur tubuh di tempat yang berbeda, karena tempat yang digunakan mandi tadi kotor.
Sesungguhnya dua pendapat diatas masing-masing memiliki dasarnya dari hadist. Namun, terdapat satu pendapat dari Imam Malik yang menengahi, yaitu “jika mandi ditempat yang tidak bersih, maka ia mengakhirkan mencuci kaki. Dan jika mandi di tempat yang bersih, maka ia mendahulukan mencuci kaki bersama wudhu”. Dan ini pendapat yang dipilih oleh pengarang[7].

5.      Menyela-nyela pangkal rambut lalu menyiram air ke kepala sebanyak tiga kali. Dalam menyiram kepala hendaklah dimulai dari kepala bagian kanan, lalu yang kiri, dan terakhir kepala bagian tengah. Hal ini berdasarkan hadist Aisyah r.a, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنْ الْجَنَابَةِ دَعَا بِشَيْءٍ نَحْوَ الْحِلَابِ فَأَخَذَ بِكَفِّهِ بَدَأَ بِشِقِّ رَأْسِهِ الْأَيْمَنِ ثُمَّ الْأَيْسَرِ ثُمَّ أَخَذَ بِكَفَّيْهِ فَقَالَ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ
“Nabi SAW apabila hendak mandi janabat, beliau minta diambilkan air kedalam wadah besar seperti hilab (wadah untuk menampung perahan susu unta). Beliau lalu mencidukan air separuh telapak tangannya dan menyiram kepalanya mulai dari bagian kanan, lalu bagian kiri, lalu mengambil air sepenuhnya dua telapak tangannya dan menuangkan diatas kepalanya.”[8].
Masih dari Aisyah, ia mengatakan,” Jika salah seorang dari kami mengalami junub, maka ia menuangkan air dengan tangannya ke atas kepalanya tiga kali. Kemudian mengambil air dengan tangannya untuk dituangkan ke bagian kanannya, kemudian dengan dituangkan lagi ke bagian kirinya.”[9]
Mandi janabat memiliki beberapa kewajiban diantaranya sampainya air ke bagian tumbuhnya rambut, kewajiban ini berlaku bagi kaum pria ataupun wanita, berdasarkan firman Allah SWT dalam Qs. Al-Maidah: 6.
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kakimu. Jika kamu junub maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik. Usaplah wajahmu dan tanganmu dengan debu itu. Allah tidak ingin menyulitkanmu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-nikmat bagimu, agar kamu bersyukur.”
Maka tidak boleh bagi wanita hanya sekedar mencuci rambutnya saja, akan tetapi baginya untuk mengalirkan air itu hingga tempat tumbuhnya rambut termasuk kulit kepala, akan tetapi jika rambutnya itu berlilit maka tidak perlu untuk membukanya cukup wajib mengalirkan air itu pada setiap lilitan rambut itu[10].

6.      Mengguyurkan air pada seluruh badan dari mulai bagian kanan setelah itu bagian kiri. Syarat utama sahnya ibadah mandi janabat ini adalah ratanya air ke seluruh tubuh terkena basuhan air.Dalilnya dari hadist Aisya r.a, ia berkata: 
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِى تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِى شَأْنِهِ كُلِّهِ                                                
“Nabi SAW biasa mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, ketika bersisir, ketika bersuci dan dalam setiap perkara yang baik-baik.”[11]
Mengguyur air ke seluruh tubuh disini cukup sekali saja sebagaimana dzohirnya hadist yang membicarakan tentang mandi. Inilah salah satu pendapat dari madzhab Imam Ahmad dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah[12]. Hendaknya ketiak dan lipatan tubuh yang sulit untuk terjangkau yang terkena air diperhatikan, dibersihkan dan digosok. Walaupun menggosoknya tidak wajib.
Jumhur ulama berpendapat yang berbeda dengan pendapat Malik dan al-Muzani dari kalangan Syafi’iyah bahwa menggosok tubuh tidak wajib. Tapi dianjurkan dalam mandi, jika seseorang menuangkan air ke seluruh tubuhnya, maka ia telah menuanaikan apa yang telah diwajibkan Allah SWT kepadanya. Begitu juga jika ia menyelam kedalam air, maka ia telah membasahi seluruh tubuhnya. Berdasarkan hal ini, jika seseorang berdiri dibawah pancuran air kemudian air membasahi seluruh tubuhnya, maka mendinya telah sah jika disertai niat[13]
7.      Berpindah dari tempat semula lalu membasuh kaki, bagi orang yang tidak menyempurnakan wudhunya dengan membasuh kaki sebelum memulai mandi,
Kesimpulan ini diambil dari hadist Maimunah radhiyallahu anha tentang mandi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
                    
تَوَضَّأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ غَيْرَ رِجْلَيْهِ وَغَسَلَ فَرْجَهُ وَمَا أَصَابَهُ مِنْ الْأَذَى ثُمَّ أَفَاضَ                            رِجْلَيْهِ فَغَسَلَهُمَا هَذِهِ غُسْلُهُ مِنْ الْجَنَابَة الْمَاءَ ثُمَّ نَحى عَلَيْهِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu sebagiamana wudhunya untuk shalat, selain membasuh kakinya dan beliau mencuci kemaluannya serta tempat yang terkena mani. Kemudian beliau menuangkan air ke seluruh tubuh, lalu menggeser kedua kakinya dan mencuci keduanya, inilah mandi janabat beliau.” (HR. Bukhori)
Syaikh bin Bazz rahimahullah berkata, membasuh kedua kaki di akhir rangkaian mandi, membasuhnya saat melakukan rangkaian wudhu sebelum mandi, atau tidak membasuhnya lagi adalah sama saja.
Dan dianjurkan untuk tidak berlebihan dakam menggunakan air. Karena sedikitnya air yang digunakan untuk ibadah, baik dalam wudhu ataupun mandi, menjadi tanda fakihnya seseorang terhadap agamanya. Jika kita lihat sedikitnya air yang digunakan Rasulullah tidak sebanding dengan ukuran air yang digunakan kaum muslimin saat ini.
Diriwayatkan dari Anas, “Nabi SAW biasa mandi dengan air sebanyak satu sha’ sampai 5 mud air, dan biasa berwudhu hanya satu mud.”[14]
Demikian tata cara mandi janabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdasarkan tuntunan sunnah dengan dua hadist yang diriwayatkan oleh kedua istrinya, baik hadist Aisyah yang hanya menjelaskan secara global dan hadist Maimunah yang di perinci dan beberapa tambahan hadist sebagai pelengkapnya. Ada banyak hikmah yang bisa diambil dari tata cara mandi Nabi SAW tersebut seperti dari awal mencuci telapak tangan yaitu untuk membersihkan kotoran dan sampai pada bagian kenapa Rasulullah SAW berpindah tempat karena Nabi SAW merasa tempat yang tadi kotor, seperti yang telah dijelaskan di atas.Waallahu ‘Alam bis shawab



[1]Mahassantri Ma’had ‘Aly Hidayaturrahman                 
[2]Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 1/364. Pustaka Azzam, 2008
[3]Al-Lu’lu wal Marjan, Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, Diriwayatkan oleh Bukhori pada kitab ke-5 kitab mandi, bab ke-1 bab wudhu sebelum mandi, Insan Kamil, 2010
[4]Al-Lu’lu wal Marjan, Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, Diriwayatkan oleh Bukhori pada kitab ke-5 kitab mandi, bab ke-7 bab berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung dalam mandi junub, Insan Kamil, 2010
[5]Fathul Bari, Ibnu Hajar al-Asqalani, 1/360
[7]Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal bin As-Sayid Salim, 1/233. Pustaka Azzam, 2015
[8]Al-Lu’lu wal Marjan, Muhammad Fu’ad Abdul Baqi,Diriwayatkan oleh Bukhori pada kitab ke-5 kitab mandi, bab ke-6 bab orang yang memulai mandi dengan wadah kecil atau wewangian, Insan Kamil, 2010
[9]Al-Lu’lu wal Marjan, Muhammad Fu’ad Abdul Baqi,Diriwayatkan oleh Bukhori pada kitab ke-5 kitab mandi, bab ke-4 Orang yang menyiramkan air ke atas kepalanya tiga kali, Insan Kamil, 2010
[10]Fatwa-fatwa tentang wanita, Syeikh Muhammad bin Ibrahim asy-Syaikh, 1/24. Darul Haq, Jakarta, 2008
[11]Al-Lu’lu wal Marjan, Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, Disebutkan oleh Bukhori pada kitab ke-4 kitab wudhu, bab ke-31 bab Mendahulukan yang kanan ketika berwudhu dan mandi, Insan Kamil, 2010
[12]Al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyah li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah, Alauddin Abul Hasan Ali bin Muhammad al-Ba’li ad-Dimasyqi al-Hanbali, hal.14. Mawqi Misykatul Islamiyah
[13]Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal bin As-Sayid Salim, 1/235. Pustaka Azzam, 2015
[14]Al-Lu’lu wal Marjan, Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, Diriwayatkan oleh Bukhori pada kitab ke-4 kitab wudhu, bab ke-47 bab wudhu dengan satu mud air, Insan Kamil, 2010

Manisnya Muraqabah