Ummu Kultsum dilahirkan pada masa Nabi SAW di lingkungan yang mulia hingga dewasa. Ia menjadi teladan gadis muslimah yang tumbuh diatas agama, keutamaan dan sifat malu.
Al-faruq Umar bin Khaththab Amirul Mukiminin, khalifah ke-2 dari Khulafaur Rasyidin, datang ke bapaknya dalam rangka melamarnya. Tetapi Ali bin Abi Thalib tidak memenuhi disebabkan Ummu Kultsum yang masih kecil. Lalu Umar berkata kepadanya: "Nikahkanlah aku dengannya wahai Abul Hasan, sesungguhnya aku melihat kemuliaan padanya yang tidak dimiliki oleh orang lain." (As-Ishabah oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani 8/275)
Maka Ali merelakan dan menikahkannya dengan putrinya. Umar menikahinya pada bulan Dzulqadah tahun 17 H dan Ummu Kultsum senantiasa menyertai Umar hingga dia terbunuh. Dalam pernikahan ini ia melahirkan Zaid bin Umar Al-Akbar dan Ruqayyah binti Umar.
Diantara perbuatan Ummu Kultsum istri Amirul Mukminin yang mengesankan adalah ketika Umar keluar pada suatu malam seperti biasanya untuk memperhatikan rakyatnya. Ini adalah keadaan pemimpin kepada rakyatnya di dalam naungan negara Islam. Ketika dia melewati suatu tanah lapang di Madinah, tiba-tiba dia mendengar rintihan seorang perempuan yang eluar dari sebuah rumah bulu (kemah) dan ada seorang laki-laki yang berdiri pada pintunya.
Umar memberi salam kepadanya dan bertanya tentang dirinya. Kemudian laki-laki itu menceritakan bahwa dirinya berasal dari daerah pegunungan, datang ke (Madinah) dalam rangka ingin memperolah kemurahan Amirul Mukminin. Lalu Umar bertanya kepadanya tentang wanita yang didengar rintihannya.
Maka laki-laki tersebut berkata dalam keadaan tidak mengetahui bahwa yang berbicara dengannya adalah Amirul Mukminin: "Pergilah engaku kepada pekerjaanmu semoga Allah merahmatimu dan janganlah engaku bertanya tentang sesuatu yang tidak penting bagimu."
Umar bertanya dengan mendesak dan dia tiba menawarkan bantuan kepadanya jika memungkinkan. Maka laki-laki itu menjawab: "Sesungguhnya dia adalah istriku yang akan melahirkan dan tidak ada seorang pun disisinya."
Umar kemudian meninggalkan laki-laki tersebut dan kembali ke rumahnya dengan tergesa-gesa. Dia menemui istrinya Ummu Kultsum dan berkata kepadanya: "Apakah kamu menginginkan pahala yang akan Allah berikan kepadamu?"
Ia menjawab dalam keadaan dipenuhi rasa gembira terhadap kabar gembira yang menyenangkan ini: "Kebaikan dan pahala apa itu wahai Umar?"
Umar mengabarkan peristiwa yang baru dialaminya. Setelah itu dengan segera ia berdiri dan membawa peralatan melahirkan serta segala sesuatu yang dibutuhkan bayi. Sementara Amirul Mukminin membawa periuk yang berisi mentega dan biji-bijian. Lalu dia dan istrinya berangkat hingga sampailah ke rumah bulu (kemah) tersebut.
Ummu Kultsum masuk menemui seorang perempuan untuk membantu dan melayaninya sebagai layaknya seorang bidan. Sedangkan Amirul Mukiminin duduk bersama laki-laki tersebut di luar rumah sambil memasak makanan yang dibawanya. Ketika perempuan tersebut telah melahirkan anaknya, Ummu Kultsum berkata dari dalam rumah bulu: "Wahai Amirul Mukminin, berilah kabar gembira kawanmu itu. Sesungguhnya Allah telah memberi rizki seorang anak laki-laki kepadanya."
Maka tercenganglah orang Badu'i tersebut, ternyata orang yang memasak makanan dan meniup api di hadapannya adalah Amirul Mukminin. Demikian pula tercenganglah wanita Badu'i itu bahwa wanita yang membantunya melahirkan adalah istri Amirul Mukminin.
Terheran-heranlah para pengekor pemilik peradaban-peradaban palsu tatakala mereka melihat kenyataan bahwa peradaban Islam mampu membuat kepala negara bersama istrinya sebagai pelayan seorang laki-laki dan wanita dari penduduk Badu'i.
Setelah itu muncullah tangan yang berdosa lagi dendam terhadap Islam dengan membunuh Amirul Mukminin Umar bin Khaththab. Ummu Kultsum pun menjadi janda. Tatkala Ummu Kultsum wafat, Ibnu Umar dan Zaid bin Umar menshalatinya. Ibnu Umar menempatkan Zaid disampingnya dan bertakbir 4 kali.
"Ya Allah, ya Rabb kami, ridhailah Ummu Kultsum seorang bidan muslimah."
referensi:
Sirah Shahabiyah, Mahmud Mahdi Al-Istambuli
Tidak ada komentar:
Posting Komentar